Sulawesitoday - Ketergantungan kabupaten ini pada sektor pertanian terbukti menjadi pedang bermata dua. Saat kondisi cuaca bersahabat, ladang dan kebun menghidupkan ekonomi Parimo.
Namun, begitu hujan deras mengguyur, ancaman banjir dan longsor kembali mengintai, menurunkan geliat ekonomi yang baru saja bangkit.
Pada masa pandemi COVID-19, laju ekonomi Parimo anjlok 4,9 persen, angka yang sempat membuat semua pihak menahan napas.
Namun, berakhirnya pandemi memicu rebound menggembirakan: pertumbuhan melonjak positif 4,7 persen, seakan terbukti bahwa sektor pertanian kembali menopang kehidupan warga.
Sayang, kebahagiaan itu tidak bertahan lama. Banjir bandang yang meluluhlantakkan persawahan di Desa Torue, Kecamatan Torue, menelan puluhan hektare sawah dan kebun kopi.
Irwan, Kepala Bappelitbangda Parimo, mencatat bahwa imbasnya menurunkan pertumbuhan ekonomi dari 4,7 persen menjadi hanya 3,5 persen pada kuartal berikutnya.
> “Saat air bah menerjang, irigasi rusak parah. Beberapa petani harus merelakan panen dan berharap benih baru bisa ditanam,” ujar Irwan saat workshop UNESCO–BRIN–Universitas Budi Luhur di Aula Bappelitbangda Parimo, beberapa waktu lalu.
Lebih dari Torue, titik-titik kritis lain seperti di Tinombo dan Wuni juga sempat terendam. Kerusakan jaringan irigasi di desa-desa pegunungan menambah beban petani lokal, yang harus merogoh kocek untuk memperbaiki saluran. Padahal, biaya perbaikan seringkali melampaui harga jual gabah.
Menanggapi rentetan bencana, Bappelitbangda bersama BPBD Parimo telah merampungkan dokumen blueprint penanganan dan mitigasi.
Baca Juga: Parigi Moutong Bangga Angka Kemiskinan Turun, Tapi Programnya Bisa Mandek
Meski demikian, Irwan menegaskan, “Perencanaan ini hanya setengah langkah. Alam tak pernah bisa diprediksi; kita bisa hanya meminimalkan risiko, bukan menghilangkan.”
Parimo, yang juga dicap rawan gempa dan tsunami, kini di antaranya harus berjaga terhadap hujan lebat dan tanah longsor. Kesiapsiagaan dan sinergi antar-kelompok masyarakat, lembaga penelitian, dan pemerintah dinilai menjadi tumpuan utama agar laju ekonomi tetap stabil, meski langit mendung lagi menanti.
Artikel Terkait
Viral Liang Lahat Sekeras Batu, Pemakaman di Bone Libatkan Ekskavator dan Komentar Mistis Netizen
Bappelitbangda Parigi Moutong: Rencana Oke, Eksekusi Hampir Sempurna, Tapi Masih Manual
Sudah 4 Tahun Usulan Masuk, Jembatan Lingkar Parigi Moutong Masih Jadi Janji di Meja Pemprov
Parigi Moutong Bangga Angka Kemiskinan Turun, Tapi Programnya Bisa Mandek
Bendungan Lambunu Keruh Tak Kunjung Jernih, Tambang Emas Ilegal Diduga Biang Keladi