Sulawesitoday - Air itu dulunya jernih. Sekarang keruh seperti kopi tubruk yang tak pernah selesai diaduk. Dan itu terjadi bukan karena hujan.
Di Bendungan Lambunu, Kecamatan Bolano Lambunu, Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, warna air berubah drastis. Bukan hanya sesekali, tapi hampir setiap hari. Padahal bendungan itu adalah nadi pengairan bagi sawah-sawah yang menyusun hidup ribuan warga.
Dugaan tak jauh dari hulu: aktivitas tambang emas tanpa izin (PETI) semakin menjadi-jadi. Ekskavator terlihat hilir-mudik seperti tak kenal lelah, menggali dan menggerus tanah di Duyung, Gurintang, Watalemo, sampai Kuala Raja. Sedikitnya 10 alat berat disebut beroperasi. Siang, malam. Hujan, panas.
Seorang petani—namanya enggan ditulis karena takut—mengaku hasil panennya turun drastis.
“Air masuk ke sawah dalam keadaan keruh. Pupuk jadi tak terserap. Padi tumbuh malas. Kami panen, tapi tak senang,” katanya pelan.
Ia dan petani lain sudah berulangkali mengeluh. Surat pernah dikirim, laporan disampaikan. Dari IP3A, kelompok tani, hingga kepala UPTD pun ikut bersuara. Camat dan polisi tahu. Bahkan memanggil para penambang. Tapi mereka tak datang. Bahkan wajah pun tak tampak.
“Mereka hanya dikasih undangan. Tapi siapa yang mau hadir ke pemanggilan yang tak punya gigi?” sindir si petani.
Bendungan Lambunu kini seperti saksi bisu dari program besar yang gagal menyentuh realita: swasembada pangan. Pemerintah pusat galak soal target beras nasional. Tapi di lapangan, sumber airnya justru dibiarkan rusak.
Baca Juga: Viral Liang Lahat Sekeras Batu, Pemakaman di Bone Libatkan Ekskavator dan Komentar Mistis Netizen
Kondisi ini, jika terus dibiarkan, bukan hanya membunuh harapan petani Lambunu. Tapi juga menusuk jantung ketahanan pangan nasional. Ironis, ketika alat berat terus menggali emas di gunung, yang tenggelam justru nasib para penanam padi di lembah.
Dan satu harapan mereka tak muluk:
“Cuma ingin air jernih seperti dulu.”
Artikel Terkait
Kronologi Lengkap Penangkapan FF dan Pemusnahan 13 Paket Sabu 2,45 Kg di Kota Palu
Viral Liang Lahat Sekeras Batu, Pemakaman di Bone Libatkan Ekskavator dan Komentar Mistis Netizen
Bappelitbangda Parigi Moutong: Rencana Oke, Eksekusi Hampir Sempurna, Tapi Masih Manual
Sudah 4 Tahun Usulan Masuk, Jembatan Lingkar Parigi Moutong Masih Jadi Janji di Meja Pemprov
Parigi Moutong Bangga Angka Kemiskinan Turun, Tapi Programnya Bisa Mandek