• Selasa, 21 Juli 2026

Peran Ayah dalam Pencegahan Stunting: Tidak Hanya Tugas Ibu

.
Dwi Rahayu Putri, Sulawesi Today
- Kamis, 22 Mei 2025 | 09:52 WIB
Pencegahan stunting adalah proyek jangka panjang. Dan setiap ayah—lebih dari sekadar kepala keluarga—seharusnya jadi bagian aktif dari perubahan itu
Pencegahan stunting adalah proyek jangka panjang. Dan setiap ayah—lebih dari sekadar kepala keluarga—seharusnya jadi bagian aktif dari perubahan itu

Sulawesitoday - Di banyak rumah, urusan tumbuh kembang anak sering dianggap ranah ibu. Ayah cukup kerja, pulang, bawa uang, lalu diam-diam berharap anaknya pintar dan sehat. Tapi di era ketika angka stunting masih bertengger tinggi, pola lama itu pelan-pelan perlu dibongkar.

Stunting tidak datang tiba-tiba. Ia tumbuh diam-diam dari ketidakhadiran: gizi yang tak cukup, sanitasi yang buruk, dan pola asuh yang timpang. Dalam lingkup keluarga, kadang stunting muncul bukan karena kekurangan makanan, tapi karena kurang perhatian.

Padahal, mencegah stunting adalah kerja kolektif. Termasuk ayah.

Konvergensi stunting—begitu pemerintah menyebut pendekatan terpadu ini—menyasar keluarga prasejahtera di desa sebagai pusat intervensi. Bukan hanya membagikan bantuan, tapi menyusun strategi menyeluruh dari gizi hingga sanitasi.

“Delapan aksi ini menjadi kerangka kami—dari promosi pangan lokal hingga sanitasi—semuanya kami sinergikan,” kata Irwan, S.K.M., M.Kes., Kepala Bappelitbangda Parigi Moutong (Parimo).

Di ruang kerja Bupati, ia memaparkan satu demi satu capaian: pendataan balita, edukasi gizi, pemantauan tumbuh kembang. Kerja banyak pihak, tapi muaranya tetap ke satu titik—rumah tangga.

Dan di titik itulah ayah sering kali absen. Bukan secara fisik, tapi peran.

“Ngurus gizi itu urusan istri.” Kalimat itu masih sering terdengar, bahkan di kampung yang aktif dalam program konvergensi. Padahal, dalam banyak studi, keterlibatan ayah dalam pengasuhan—dari mendampingi istri saat ke posyandu hingga ikut menyusun pola makan anak—berkontribusi signifikan dalam tumbuh kembang si kecil.

Kita mungkin terlalu lama menganggap peran ayah hanya di sisi ekonomi. Padahal, dalam keluarga miskin, keputusan membeli telur atau rokok pun bisa menentukan arah gizi anak. Dan ya, statistik tak memihak: banyak balita pendek lahir dari rumah yang kepalanya sibuk kerja, tapi lupa hadir.

Baca Juga: Stunting dan Kemiskinan, Dua Masalah yang Saling Berkaitan

Mengubah pola pikir ini memang tak semudah membalik brosur edukasi. Tapi tanpa itu, konvergensi hanya jadi dokumen rapi di meja pemerintah.

Pencegahan stunting adalah proyek jangka panjang. Dan setiap ayah—lebih dari sekadar kepala keluarga—seharusnya jadi bagian aktif dari perubahan itu. Karena tumbuhnya anak bukan hanya dari pelukan ibu, tapi juga dari kehadiran ayah yang benar-benar peduli.

Editor: Dwi Rahayu Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini