• Selasa, 21 Juli 2026

Lima Tahun Negosiasi, LG Mundur sementara Huayou Geser Posisi di Indonesia Grand Package

.
Muhammad Aqil Azizi, Sulawesi Today
- Sabtu, 26 April 2025 | 16:58 WIB
Investasi LGES di hilirisasi baterai EV terhenti usai negosiasi panjang; proyek kini dilanjutkan Huayou demi jaga target nikel nasional.
Investasi LGES di hilirisasi baterai EV terhenti usai negosiasi panjang; proyek kini dilanjutkan Huayou demi jaga target nikel nasional.

Sulawesitoday - Sejak 2020, LG Energy Solution (LGES) bersama konsorsium Korea digadang-gadang menjadi bintang dalam proyek “Indonesia Grand Package” senilai US$8,5–9,8 miliar—atau sekitar Rp142–165 triliun—untuk membangun rantai pasok baterai kendaraan listrik (EV) secara menyeluruh.

Ekspektasi tinggi, target ambisius, namun perjalanan panjang nyatanya penuh liku.

Negosiasi yang Berlarut

Alih-alih kilat, proses kesepakatan nyaris serasa “maraton”. Hampir lima tahun sejak nota kesepahaman, pemerintah dan LGES tak kunjung menuntaskan detail teknis.

Di satu sisi, Keputusan resmi mundur datang setelah surat pemerintah pada 31 Januari 2025 “menyarankan” LG mundur dari sebagian proyek.

Di sisi lain, para pihak frustrasi menanti kepastian—seperti menunggu lampu hijau di perempatan tanpa rambu jelas.

‘Tamu Tak Diundang’ dari China

Persaingan semakin memanas kala produsen China seperti BYD dan Huayou menunjukkan kesiapan kilat. LGES, yang merasa “diperlakukan berbeda”, terjepit margin tipis di tengah perang dagang global.

Apalagi pasar EV dunia sedang lesu; permintaan menurun, sentimen investor goyah. Kombinasi ini melunturkan daya tarik investasi besar-besaran.

Respons Istana dan Pengganti Baru

Menteri Investasi/Kepala BKPM Rosan Roeslani menegaskan, “LG belum sepenuhnya pergi, hanya mundur di tahap awal.”

Investasi senilai US$1,1 miliar untuk satu joint venture tetap berjalan, sedangkan unggahan LG di JV lainnya diserahkan ke Huayou dari China.

Baca Juga: Modus Baru Minyakita: Dari Repacker hingga Pabrik Nakal, 108 Terduga Diseret ke Bareskrim

Langkah cepat ini dianggap perlu agar proyek tak “mandek di tengah jalan” dan target hilirisasi nikel tetap on track.

Halaman:

Editor: Muhammad Aqil Azizi

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Artikel Terkait

Terkini