Ingat, emas punya selisih harga jual-beli (spread) sekitar 5 sampai 10 persen. Kalau Anda beli hari ini dan jual bulan depan, kemungkinan besar Anda rugi. Emas itu untuk napas panjang, minimal 5 sampai 10 tahun.
Emas juga sering disebut "aset malas." Dia tidak memberikan bunga atau dividen seperti saham atau obligasi. Kalau Anda beli emas, modal Anda "mati" di sana. Padahal, di saat krisis hebat, terkadang "Cash is King." Orang butuh uang tunai untuk makan, bukan emas. Sejarah mencatat, saat awal pandemi kemarin, harga emas malah sempat anjlok karena orang-orang berebut butuh uang tunai.
Lantas, bagaimana strateginya?
Pertama, jangan all in. Cukup 10 sampai 15 persen saja dari total kekayaan Anda. Negara saja tidak menaruh semua devisanya di emas, kenapa kita harus nekat?.
Kedua, gunakan teknik DCA—Dollar Cost Averaging. Nabung rutin dengan nominal yang sama setiap bulan. Kalau harga naik, Anda senang karena aset Anda tumbuh. Kalau harga turun, Anda tetap senang karena bisa dapat emas lebih banyak dengan uang yang sama.
Intinya sederhana: urus dulu urusan survive. Pastikan dapur mengepul, listrik dan air terbayar. Kalau itu sudah beres, baru pikirkan emas sebagai asuransi untuk melindungi hasil kerja keras Anda dari inflasi.
Investasi terbaik bukan soal beli apa, tapi seberapa paham Anda dengan apa yang Anda beli. Jangan sampai THR cuma numpang lewat gara-gara impulsif belanja emas di harga pucuk.
Begitu.
Baca Juga: Nusantara Project, Custom ROM Indonesia yang Mendunia Lewat Jalur Sunyi dan Stabil
Artikel Terkait
Perang Tanpa Ledakan, Saat GPS Kapal Perang Amerika Serikat Tak Lagi Bisa Dipercaya
Logika Tangjen di DPR, Sentilan Pedas untuk Kapolresta dan Kajari Sleman
Nusantara Project, Custom ROM Indonesia yang Mendunia Lewat Jalur Sunyi dan Stabil
Adu Banteng Mio vs Carry di Parigi Moutong, Pengendara Motor Meninggal Dunia
Kronologi Pekerja Tambang Kolaka Dikeroyok 4 TKA China Akibat Tanya Gaji