• Selasa, 21 Juli 2026

Kenapa Harga Emas Naik Drastis? Tembus 3 Juta di 2026, Masihkah Layak Beli atau Sudah Terlambat

.
Amirullah, Sulawesi Today
- Kamis, 29 Januari 2026 | 18:58 WIB
Harga emas resmi tembus Rp3 juta di 2026! Pelajari penyebab krisis global, risiko beli di pucuk, serta strategi DCA agar aset Anda tetap aman di tengah ketidakpastian dunia.
Harga emas resmi tembus Rp3 juta di 2026! Pelajari penyebab krisis global, risiko beli di pucuk, serta strategi DCA agar aset Anda tetap aman di tengah ketidakpastian dunia.

Sulawesitoday - Siapa sangka. Januari 2026 ini, harga emas benar-benar pecah telur. Tembus Rp3 juta per gram. Padahal, rasanya baru kemarin—awal 2025—harganya masih di angka Rp1,5 juta. Dalam setahun saja, harganya naik dua kali lipat. Gila-gilaan.

Banyak yang kaget. Ada yang senang karena sudah menabung sejak 2012. Ada yang menyesal setengah mati karena baru saja menjual emasnya. Dan, tentu saja, ada yang cemas: bagaimana nasib mahar pernikahan nanti?.

Kenapa emas bisa segila ini?

Jawabannya ada di Amerika. Dunia lagi penuh ketidakpastian. Ada isu perang dunia ketiga yang makin panas. Ditambah lagi kelakuan Donald Trump yang bikin geleng-geleng kepala. Bayangkan, Amerika menginvasi Venezuela dan menculik presidennya. Belum puas, Trump mengincar Greenland untuk diakuisisi.

Jawabannya ada di Amerika. Dunia lagi penuh ketidakpastian. Ada isu perang dunia ketiga yang makin panas. Ditambah lagi kelakuan Donald Trump yang bikin geleng-geleng kepala. Bayangkan, Amerika menginvasi Venezuela dan menculik presidennya. Belum puas, Trump mengincar Greenland untuk diakuisisi.

Harga emas resmi tembus Rp3 juta di 2026! Pelajari penyebab krisis global, risiko beli di pucuk, serta strategi DCA agar aset Anda tetap aman di tengah ketidakpastian dunia.

Masalahnya, Greenland itu milik Denmark, sekutu dekatnya di NATO. Denmark menolak. Amerika mengamuk. Mereka mengancam akan menerapkan tarif impor tinggi ke Denmark dan sekutu lainnya. Pemimpin aliansi kok menodong teman sendiri pakai senjata ekonomi. Akibatnya? Investor panik. Mereka membuang dolar dan lari ke emas.

Belum lagi soal Jerome Powell, bos The Fed—Bank Sentralnya Amerika. Dia sedang diinvestigasi kriminal oleh Departemen Kehakiman. Pasar melihat ini sebagai upaya memaksa bank sentral menurunkan suku bunga demi kepentingan politik. Sejarah mencatat, tahun 1972 di zaman Richard Nixon, hal seperti ini pernah terjadi dan hasilnya adalah inflasi gila-gilaan.

Maka, orang tidak lagi cari untung besar. Orang cari selamat. Dan penyelamat paling masuk akal adalah emas.

Emas itu sakti karena The Lindy Effect. Sudah 5.000 tahun ia terbukti bertahan melewati ribuan perang dan krisis moneter tanpa pernah nilainya menjadi nol. Berbeda dengan uang kertas yang nilainya terus menyusut dimakan inflasi.

Dulu, uang Rp50.000 bisa buat belanja pasar satu minggu. Sekarang? Makan layak tiga hari saja mungkin tidak cukup. Harga ikan 1 kg sudah tembus Rp60.000. Sebenarnya, emas tidak menjadi lebih mahal karena komposisinya berubah, tapi karena nilai rupiah dan dolar yang makin lemah. Tahun 1998, 1 gram emas cuma Rp75.000. Sekarang Rp3 juta. Daya beli emas itu terjaga.

Bukan cuma kita yang borong emas. Bank sentral dunia juga sedang rakus-rakusnya. Cina beli 25 ton. Bank Indonesia pun ikut beli, meski cuma 1 ton. Mereka tidak peduli harga mahal, yang penting keamanan nasional dan kedaulatan negara agar tidak tergantung pada dolar.

Tapi, apakah sekarang sudah terlambat untuk beli emas?

Saya pikir belum. Tapi hati-hati. Jangan beli karena FOMO—ikut-ikutan karena takut ketinggalan. Jangan beli pakai uang THR atau uang untuk nikah tahun depan. Itu bahaya.

Halaman:

Editor: Amirullah

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini