"Pihak syahbandar harusnya yang paling tahu kondisi kelayakan kapal, jumlah penumpang dan layak atau tidak kapal diberangkatkan," ketusnya.
Ia menegaskan, jika Syahbandar tahu sejak awal namun membiarkan kapal berangkat, itu sama saja "berani bermain dengan nyawa banyak orang."
Laskar Bili juga menyoroti akar masalah: kapal feri rute Wawonii-Kendari yang sedang dalam perbaikan. Kondisi ini membuat kapal-kapal kayu seadanya beroperasi tanpa pengawasan memadai, mengambil celah untuk mengangkut penumpang berlebih.
Baca Juga: Era Dokumen Bodong Parimo Tamat, Ijazah Kini Punya Sidik Jari Digital
"Harusnya pihak ASDP bisa menyediakan kapal pengganti," sindirnya. Koordinasi yang buruk antara ASDP dan pemerintah daerah, menurutnya, adalah biang keladi kejadian memilukan ini.
DPRD berjanji akan memanggil Syahbandar dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) untuk meminta pertanggungjawaban. Insiden KM Alif Berkah ini menjadi pengingat pahit, bahwa nyawa tak boleh lagi jadi taruhan di atas laut.
Artikel Terkait
Medsos Ribut Soal Bendera Israel di Rinjani, Pemerintah: Itu Cerita Lama!
Lippo Group Bidik Morowali, Gubernur Sulteng Siapkan Karpet Merah Investasi
Ngumpet di Bunker Lalu Kabur ke Yunani, Netanyahu Lari dari Rudal Hipersonik Iran
FKPAPT Sulap Mertasari, Ribuan Bibit Mangrove Jadi Penjaga Garis Pantai Abadi
Era Dokumen Bodong Parimo Tamat, Ijazah Kini Punya Sidik Jari Digital