• Kamis, 4 Juni 2026

Tom Lembong Ungkap Tantangan Ekonomi Global 2025, Sebut Perang Dagang AS-China Picu Ketidakpastian

.
Nur Rafiqa, Sulawesi Today
- Sabtu, 13 September 2025 | 13:59 WIB
Tom Lembong analisis ekonomi global 2025: perang dagang AS-China picu ketidakpastian, demo Nepal-Filipina cermin kondisi serupa
Tom Lembong analisis ekonomi global 2025: perang dagang AS-China picu ketidakpastian, demo Nepal-Filipina cermin kondisi serupa

Sulawesitoday -  Ekonom senior dan mantan Menteri Perdagangan RI, Tom Lembong, mengungkapkan keprihatinannya terhadap kondisi ekonomi global yang semakin tidak menentu. Dalam analisis terbaru, dia menyoroti dampak serius perang dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok.

"Situasi ekonomi dunia sedang berada di titik yang sangat menantang," ungkap Tom Lembong dalam wawancara eksklusif di kanal YouTube Raymond Chin, Jumat (12/9/2025). Pernyataan ini muncul setelah dia resmi mendapat abolisi dari Presiden Prabowo Subianto pada 5 Agustus lalu.

Eks pejabat yang pernah menjabat di era Jokowi ini menjelaskan bahwa ketidakpastian ekonomi global dipicu oleh kebijakan agresif Presiden AS Donald Trump. Tarif balasan yang diterapkan Washington terhadap produk-produk China menciptakan efek domino ke seluruh dunia.

  • Perang Dagang Membayangi Ekonomi Dunia

Menurut pengamatan Tom Lembong, persaingan ekonomi AS-China bukan sekadar pertikaian bilateral. Dampaknya merambah ke negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. "Ini bukan cuma soal dua negara besar. Seluruh dunia terkena imbasnya," tegas dia.

Kebijakan tarif resiprokal Trump dinilai menciptakan gelombang proteksionisme global. Negara-negara mulai mempertimbangkan langkah serupa untuk melindungi industri domestik mereka. Akibatnya, rantai pasokan global mengalami gangguan signifikan.

Data Kementerian Perdagangan menunjukkan, nilai ekspor Indonesia ke AS turun 12% dalam kuartal pertama 2025. Sementara ekspor ke China juga tertekan akibat melemahnya daya beli konsumen di Negeri Tirai Bambu.

  • Fenomena Global: Dari Nepal hingga Filipina

Tom Lembong juga mengaitkan ketidakstabilan ekonomi dengan munculnya gerakan demonstrasi di berbagai negara. Nepal, misalnya, mengalami aksi protes besar-besaran yang dimotori generasi muda. Isu yang diangkat serupa: kritik terhadap tata kelola pemerintahan dan korupsi.

"Yang menarik, pola ini berulang di banyak tempat," kata Tom Lembong. Di Filipina, gerakan serupa juga mulai menggeliat. Bahkan, aktivis muda Manila mengaku terinspirasi semangat idealisme pemuda Indonesia.

Fenomena ini menunjukkan bahwa tantangan yang dihadapi Indonesia bukanlah kasus terisolasi. Krisis kepercayaan terhadap institusi pemerintah menjadi masalah universal di era ketidakpastian ekonomi global.

  • Siklus Ekonomi dan Politik

Dalam perspektif yang lebih luas, Tom Lembong melihat kondisi saat ini sebagai bagian dari siklus alamiah ekonomi dan politik. "Setiap negara punya masa naik-turun. Kita sedang di fase yang menantang," jelasnya.

Analisis ini sejalan dengan teori siklus bisnis yang dikemukakan ekonom Joseph Schumpeter. Periode resesi atau stagnasi sering diikuti pembaruan struktural yang membawa pertumbuhan jangka panjang.

Namun, Tom Lembong menekankan pentingnya respons kebijakan yang tepat. Pemerintah perlu mengambil langkah strategis untuk memitigasi dampak negatif perang dagang. Diversifikasi pasar ekspor dan penguatan industri dalam negeri menjadi kunci.

  • Refleksi Pascaabolisi

Sejak mendapat abolisi, Tom Lembong kembali aktif memberikan analisis ekonomi. Kasus impor gula yang melililitnya dinilai sebagai pembelajaran berharga tentang kompleksitas kebijakan perdagangan internasional.

"Pengalaman ini memberikan perspektif berbeda tentang tantangan yang dihadapi para pembuat kebijakan," refleksi Tom Lembong. Dia kini fokus pada edukasi publik mengenai dinamika ekonomi global melalui berbagai platform media.

Halaman:

Editor: Nur Rafiqa

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Terkini