Sulawesitoday - Dugaan keracunan makanan kembali menimpa siswa sekolah dasar di Sulawesi Tengah. Kali ini, 18 siswa Sekolah Dasar Katolik (SDK) Toboli Barat, Kecamatan Parigi Utara, mengalami gejala keracunan setelah mengonsumsi menu Program Makan Bergizi Gratis (MBG) pada Selasa, 16 September 2025.
Insiden terjadi beberapa jam pasca santap siang. Para siswa mengeluhkan gejala serupa. Sakit perut melanda. Mual menyerang. Muntah tak terbendung. Kondisi ini memaksa pihak sekolah segera mengambil tindakan darurat dengan membawa seluruh siswa yang terdampak ke fasilitas kesehatan terdekat.
Puskesmas Pangi, Kecamatan Parigi Utara, menjadi tempat rujukan pertama. Vemmy Lamatoa, Kepala Puskesmas setempat, mengonfirmasi kedatangan ke-18 siswa tersebut untuk mendapat pemeriksaan medis. Namun, ia bersikap hati-hati dalam memberikan diagnosa pasti.
"Kami melakukan observasi dan pemeriksaan menyeluruh terhadap 18 siswa SDK Toboli Barat yang datang dengan keluhan serupa," ungkap Vemmy saat dikonfirmasi. "Mereka mengeluhkan mual, muntah, dan sakit kepala. Namun, saya tidak dapat memastikan apakah ini benar-benar kasus keracunan makanan atau bukan."
Vemmy menegaskan pihaknya hanya melakukan pemeriksaan awal dan observasi. Tidak ada perawatan intensif yang diperlukan. "Diagnosis pasti harus dilakukan oleh dokter yang berwenang," tambahnya dengan penuh kehati-hatian.
Sementara itu, fakta mengejutkan terungkap dari pihak Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Parigi Moutong. Ibrahim, Kepala Bidang Manajemen Sekolah Dasar, mengaku baru mengetahui kejadian ini dari pemberitaan media. Hingga saat ini, tidak ada laporan resmi yang masuk ke kantornya.
"Informasi ini baru saya ketahui setelah dikonfirmasi wartawan," kata Ibrahim melalui sambungan telepon. "Aneh, seharusnya pihak sekolah segera melaporkan insiden semacam ini kepada dinas terkait."
Ibrahim berjanji akan segera melakukan koordinasi dengan Kepala SDK Toboli Barat. Ia meminta keterangan lengkap mengenai kronologi kejadian, jenis makanan yang dikonsumsi, dan langkah-langkah penanganan yang telah diambil sekolah.
"Setelah mendapat laporan lengkap dari kepala sekolah, baru kami dapat memberikan penjelasan resmi kepada publik," tegasnya. "Keselamatan siswa adalah prioritas utama kami."
Insiden ini menambah daftar panjang kasus dugaan keracunan makanan di institusi pendidikan Indonesia. Program MBG yang digadang-gadang meningkatkan gizi siswa, justru kerap menimbulkan kekhawatiran terkait keamanan pangan dan sistem pengawasan mutu makanan.
Hingga berita ini diturunkan, kondisi ke-18 siswa dilaporkan stabil. Mereka telah diizinkan pulang setelah menjalani observasi di puskesmas. Namun, investigasi mendalam terkait penyebab pasti gejala yang dialami para siswa masih terus berlangsung.
Kasus ini menjadi pengingat penting bagi seluruh stakeholder pendidikan. Koordinasi yang solid antara sekolah, dinas pendidikan, dan fasilitas kesehatan mutlak diperlukan dalam menangani situasi darurat. Transparansi pelaporan bukan hanya soal prosedur administratif, namun juga bentuk tanggung jawab terhadap keselamatan anak-anak Indonesia.
Baca Juga: Normalisasi Sungai Jadi Solusi Utama Atasi Banjir Desa Matolele Parimo
Artikel Terkait
Berikut Daftar Staf Ahli yang Membantu Menteri Agama 2025
Yang Mempunyai Tugas Melaksanakan Pengawasan Internal Pada Kementerian Agama, Ini Penjelasannya
Cara Mencari Font Lewat Gambar, Panduan Lengkap
KPU Tegas Bantah Campur Tangan Istana dalam Pencabutan Aturan Kerahasiaan Ijazah Capres
Normalisasi Sungai Jadi Solusi Utama Atasi Banjir Desa Matolele Parimo