Sulawesitoday - Pengakuan mengejutkan datang dari Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. Ia mengklaim mengenal para spekulan yang menggoreng saham. Bahkan, sebagian dari mereka bukan market maker profesional.
Pernyataan ini meluncur tajam saat acara temu media Kementerian Keuangan di Bogor, Jawa Barat, Jumat pekan lalu. Purbaya tak main-main. Dia memberi ultimatum kepada Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Waktu yang diberikan: satu tahun.
"Kalau selama setahun bersih-bersih saja, sementara saya bisa lihat saham yang digoreng," ujar Purbaya. Nada bicaranya tegas namun santai. "Saya kan mengamati pasar saham juga ya, ada yang menggoreng-goreng, sebagian juga saya kenal pemainnya."
Yang menarik, Menkeu menyebut ada pelaku yang bukan pemain utama. Mereka hanya ikut-ikutan dalam aksi manipulatif tersebut. Praktik seperti ini sudah lama jadi rahasia umum. Namun jarang ada pejabat setingkat menteri yang berani blak-blakan.
-
Mengapa Generasi Muda Jadi Taruhannya?
Kepedulian Purbaya bukan tanpa alasan. Data menunjukkan 50 persen investor pasar modal saat ini adalah kalangan muda. Gen Z dan milenial kini mendominasi lanskap investasi Indonesia. Mereka masuk dengan semangat tinggi, bermodal aplikasi sekuritas di smartphone.
Tapi praktik penggorengan saham bisa jadi bumerang. Investor pemula yang belum paham seluk-beluk pasar rentan tertipu. Mereka membeli saham di harga tinggi. Lalu tersandera saat harga anjlok karena aksi profit-taking pelaku manipulatif.
"Kalau itu enggak dibersihin sayang," kata Purbaya dengan nada prihatin. "Minat Gen Z atau kalangan muda yang berinvestasi di pasar modal sekarang bisa hilang karena 50 persen anak-anak muda kan."
Kekhawatiran ini beralasan. Jika kepercayaan investor muda runtuh, pasar modal Indonesia bisa stagnan. Bahkan mundur beberapa langkah. Regenerasi investor terhambat. Likuiditas pasar terancam mengering.
"Kalau itu hilang ya sudah pasar modal kita enggak bisa berkembang lagi," tambahnya. "Tapi kalau dirapikan maka mereka akan berani masuk ke pasar saham karena mereka akan berpikir bahwa di sana fair game."
Frasa "fair game" jadi kata kunci. Purbaya ingin pasar modal Indonesia dipersepsikan adil. Bukan arena permainan curang yang hanya menguntungkan segelintir orang.
-
Insentif Pajak Sebagai Imbalan Reformasi?
Strategi Purbaya cukup cerdas. Dia tak hanya mengancam. Ia juga menawarkan wortel dalam bentuk insentif fiskal. Salah satunya adalah pengurangan beban pajak bagi pelaku pasar modal.
Namun ada syarat ketat. BEI dan OJK harus bekerja keras membersihkan praktik manipulatif terlebih dahulu. Baru setelah itu, pemerintah akan mempertimbangkan stimulus pajak.
"Nanti kita lihat seperti apa, tapi saya bisa dukung itu kalau mereka bekerja lebih keras lagi untuk menjaga integritas pasar modal itu sendiri," ungkap Purbaya.
Pendekatan ini mirip dengan strategi bargaining dalam negosiasi. Pemerintah punya kartu truf berupa insentif. Otoritas pasar modal punya kewajiban membereskan rumahnya sendiri. Win-win solution, jika dieksekusi dengan baik.
Artikel Terkait
Utang Rp9138 Triliun, Kemenkeu Sebut Pajak Masa Depan untuk Generasi Mendatang
APBN untuk Ponpes Al-Khoziny Tuai Polemik, DPR Minta Kajian Ulang, 67 Korban Meninggal dalam Tragedi Sidoarjo
Insiden Kebakaran Cerobong Uap PT SLNC Morowali: Polres Turun Tangan, Dua Pekerja Dirawat Akibat Luka Bakar
Obat Dasar Habis di RSUD Anuntaloko, Pasien Kelas III Terpaksa Tebus di Luar - Muhammad Basuki Minta Pemda Bertindak Cepat
Menkeu Purbaya Sebut Era SBY Lebih Sejahtera, Data Ekonomi Jadi Bukti