• Selasa, 21 Juli 2026

Insiden Kebakaran Cerobong Uap PT SLNC Morowali: Polres Turun Tangan, Dua Pekerja Dirawat Akibat Luka Bakar

.
Muhammad Aqil Azizi, Sulawesi Today
- Minggu, 12 Oktober 2025 | 22:04 WIB
Kebakaran menara Scrubber PT SLNC Morowali lukai dua pekerja. Polres olah TKP dan selidiki penyebab. Kondisi korban stabil.
Kebakaran menara Scrubber PT SLNC Morowali lukai dua pekerja. Polres olah TKP dan selidiki penyebab. Kondisi korban stabil.

Sulawesitoday - Api berkobar di menara Scrubber. Milik PT Sulawesi Nickel Cobalt. Kejadian Minggu pagi, 12 Oktober 2025. Pukul 08.50 WITA tepatnya. Cerobong uap yang memuat campuran asam dan nikel itu terbakar hebat. Dua pekerja jadi korban. Seorang tenaga kerja asing. Satu lagi tenaga kerja lokal. Keduanya mengalami luka bakar.

Polres Morowali langsung bergerak. AKBP Zulkarnain memimpin tim olah TKP. Mereka datang ke lokasi kejadian. Safety line dipasang. Saksi-saksi diwawancara satu per satu. Koordinasi dengan manajemen PT IMIP segera dilakukan. Kawasan industri itu memang milik mereka.

  • Bagaimana Kondisi Korban Saat Ini?

Api sudah padam sepenuhnya. Korban mendapat perawatan medis. "Alhamdulillah telah mendapatkan perawatan dan masih dalam kondisi baik," ungkap Kapolres Morowali. Kedua pekerja itu kini dalam pengawasan tim medis. Luka bakar mereka ditangani dengan serius. Tidak ada yang mengancam nyawa. Setidaknya untuk saat ini.

AKBP Zulkarnain sebelumnya menjabat sebagai Kapolres Luwu Timur. Pengalamannya menangani kasus-kasus industri cukup teruji. Kali ini ia menghadapi insiden di kawasan smelter nikel terbesar. PT SLNC bagian dari ekosistem PT Indonesia Morowali Industrial Park. Area yang padat dengan aktivitas berisiko tinggi.

  • Apa Penyebab Kebakaran Menara Scrubber?

Penyelidikan masih berlangsung. Pihak kepolisian belum menyimpulkan penyebab pasti. "Untuk penyelidikan tetap akan kami lakukan dari Polres Morowali, nanti akan kami laporkan kepada pimpinan dan masyarakat terkait hasilnya," tegas Zulkarnain. Ia tak ingin gegabah menarik kesimpulan. Fakta harus bicara lebih dulu.

Scrubber sendiri berfungsi vital dalam proses produksi. Alat ini menyaring emisi berbahaya. Cerobong uapnya mengandung asam sulfat dan residu nikel. Material yang sangat korosif dan mudah terbakar. Kombinasi berbahaya jika tak dikelola ketat. Apakah ada kelalaian prosedur? Atau memang kecelakaan murni teknis? Pertanyaan-pertanyaan itu masih menggantung.

Tim penyidik Polres Morowali memeriksa setiap sudut TKP. Mereka mengumpulkan barang bukti. Dokumentasi visual dilakukan menyeluruh. Wawancara dengan pekerja lain terus berlanjut. Manajemen PT SLNC diminta menyerahkan data operasional. Termasuk log perawatan menara Scrubber terakhir. 

  • Apakah Insiden Serupa Pernah Terjadi Sebelumnya?

Kawasan industri Morowali memang rawan insiden. Suhu ekstrem, bahan kimia berbahaya, dan beban kerja tinggi jadi kombinasi mematikan. Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah kecelakaan kerja tercatat. Mulai dari ledakan tungku hingga kebocoran gas beracun. Setiap kejadian selalu berujung janji perbaikan. Namun pertanyaannya: sudahkah cukup?

AKBP Zulkarnain menyampaikan pesan tegas. "Harapan kami agar peristiwa ini menjadi pelajaran bagi para pekerja agar dapat lebih berhati-hati dalam menjalankan aktivitasnya." Pernyataan yang terdengar klise memang. Tapi relevansinya tak bisa dibantah. Keselamatan kerja bukan slogan semata. Ia soal hidup mati manusia.

Para pekerja di kawasan smelter menghadapi risiko setiap detik. Mereka bersentuhan langsung dengan suhu ribuan derajat celcius. Menghirup udara yang penuh partikel logam. Bekerja dalam shift panjang yang menguras konsentrasi. Satu kelalaian kecil bisa berujung fatal. Dua korban luka bakar hari ini mungkin masih beruntung. Bagaimana dengan yang akan datang?

  • Langkah Apa yang Diambil Pasca Kejadian?

Polres Morowali tak hanya menyelidiki. Mereka juga memastikan tidak ada korban lain yang terlewat. Safety line yang dipasang membatasi akses ke area berbahaya. Petugas keamanan PT IMIP membantu pengamanan lokasi. Sementara tim teknis memeriksa struktur menara Scrubber yang tersisa. Apakah masih aman atau perlu dibongkar total.

Manajemen PT SLNC belum memberikan keterangan resmi. Mereka memilih fokus pada penanganan korban dan investigasi internal. Sikap diam yang wajar dalam situasi krisis. Namun masyarakat dan pekerja tentu menanti transparansi. Bukan hanya soal apa yang terjadi. Tapi juga apa yang akan dilakukan untuk mencegah pengulangan.

Koordinasi antara kepolisian, manajemen perusahaan, dan dinas terkait terus berlanjut. Hasil penyelidikan dijanjikan akan disampaikan ke publik. Kapan tepatnya, belum ada kepastian. Yang jelas, tekanan untuk segera memberikan jawaban semakin besar. Setiap hari tertunda, keraguan publik makin mengental.

Baca Juga: APBN untuk Ponpes Al-Khoziny Tuai Polemik, DPR Minta Kajian Ulang, 67 Korban Meninggal dalam Tragedi Sidoarjo

Editor: Muhammad Aqil Azizi

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini