Jenderal Purnawirawan Sarwo Edhie Wibowo—ayah mertua Presiden Prabowo—juga tercatat. Tokoh militer dari Jawa Tengah. Perannya dalam sejarah TNI tak terhapuskan. Meski namanya kerap dikaitkan peristiwa 1965.
Sultan Muhammad Salahuddin mewakili Nusa Tenggara Barat. Sultan Bima yang gigih melawan penjajah. Syaikhona Muhammad Kholil, ulama besar Jawa Timur. Pendiri Pondok Pesantren Bangkalan yang melahirkan ribuan santri.
Tuan Rondahaim Saragih dari Sumatera Utara. Pejuang yang mengobarkan semangat kemerdekaan di tanah Batak. Dan Zainal Abisin Syah, pahlawan dari Maluku Utara. Namanya tercatat dalam pertempuran melawan Belanda.
Kesepuluh nama ini mewakili keberagaman Indonesia. Dari Sabang sampai Merauke. Dari ulama hingga aktivis. Dari jenderal hingga sultan. Semua punya cerita perjuangan.
Proses Panjang Sebelum Penetapan
Penganugerahan gelar Pahlawan Nasional bukan proses semalam. Butuh kajian bertahun-tahun. Dimulai dari usulan masyarakat atau pemerintah daerah. Kemudian masuk ke Dewan Gelar.
Dewan ini beranggotakan pejabat tinggi negara. Akademisi dan sejarawan duduk sebagai penilai. Mereka menelaah jejak rekam tokoh. Kontribusi terhadap bangsa ditimbang. Integritas moral dievaluasi.
Beberapa nama seperti Marsinah dan Mochtar Kusumaatmaja telah diusulkan sejak lama. Lebih dari satu dekade mereka menunggu. Kini tunggu itu berakhir.
"Kami sangat berhati-hati," kata seorang anggota tim peneliti. "Setiap nama kami verifikasi ke arsip nasional."
Kriteria ketat diberlakukan. Tokoh harus warga negara Indonesia. Sudah meninggal minimal lima tahun. Punya jasa luar biasa bagi bangsa. Pengabdiannya melampaui kepentingan pribadi atau golongan.
Upacara Berlangsung Khidmat di Istana
Pagi itu, Istana Negara dipenuhi tamu undangan. Keluarga ahli waris duduk di barisan depan. Beberapa mengenakan pakaian adat. Yang lain mengenakan busana formal.
Presiden Prabowo membacakan dekrit penganugerahan. Suaranya tegas namun khusyuk. Satu per satu nama disebutkan. Tepuk tangan menggema tiap kali nama dibacakan.
Keluarga Gus Dur terlihat menyeka air mata. Putrinya, Yenny Wahid, tampak terharu. "Ini penghargaan bagi ayah yang selalu mengutamakan kemanusiaan," ucapnya setelah upacara.
Keluarga Soeharto hadir lengkap. Anak-anaknya duduk berdampingan. Cucu-cucu turut menyaksikan. Mereka mengaku bersyukur. "Jasa beliau akhirnya diakui negara," kata salah satu anggota keluarga.
Artikel Terkait
Pemetaan Zona Pembangunan Baru dalam Revisi RTRW yang Digodok DPRD Parigi Moutong – Antara Peluang dan Kewaspadaan
Revisi RTRW yang Jadi Atensi DPRD Parigi Moutong Tangkap Peluang Pertumbuhan, Tapi Isu Kawasan Agraria dan Lingkungan Mengemuka
Drama 6 Hari Pencarian Bilqis, Balita yang Raib dari Taman Makassar Ditemukan di Jambi - Pelaku Ngaku Jual Anak Rp 3 Juta
Proyek Monumen Reog Ponorogo Masuk Radar KPK, Dugaan Penyimpangan Mulai Dibedah
Redenominasi Rupiah 1000 Banding 1, Bukan Lagi Soal Cetak Uang - Tapi Ubah Miliaran Baris Kode