• Kamis, 4 Juni 2026

Prabowo Anugerahi 10 Tokoh Gelar Pahlawan Nasional, Soeharto dan Gus Dur Masuk Daftar

.
Nur Rafiqa, Sulawesi Today
- Senin, 10 November 2025 | 12:29 WIB
Istana Negara menyaksikan momen bersejarah. Senin pagi, 10 November 2025. Presiden Prabowo Subianto berdiri tegak. Di hadapannya, keluarga ahli waris sepuluh tokoh bangsa.
Istana Negara menyaksikan momen bersejarah. Senin pagi, 10 November 2025. Presiden Prabowo Subianto berdiri tegak. Di hadapannya, keluarga ahli waris sepuluh tokoh bangsa.

Marsinah diwakili keluarga dan aktivis buruh. Mereka membawa spanduk kecil bertuliskan "Keadilan untuk Marsinah". Simbol perjuangan yang tak pernah padam.

Reaksi Publik Beragam

Media sosial merespons beragam. Tagar #PahlawanNasional2025 trending sejak pagi. Ada yang mengapresiasi. Ada yang mengkritik keras.

"Soeharto layak jadi pahlawan karena membangun Indonesia modern," tulis akun @patriot_nkri. Tweetnya disukai ribuan kali.

Namun balasan kritis tak kalah banyak. "Bagaimana dengan korban HAM di masanya? Keadilan untuk siapa?" tulis @suara_reformasi.

Diskusi tentang Gus Dur lebih hangat. Banyak yang memuji visinya tentang toleransi. "Gus Dur bapak pluralisme Indonesia," kata aktivis interfaith, Ahmad Nurcholis.

Tapi ada juga suara sumbang. "Masa kepemimpinannya chaos. Apa jasanya?" tulis akun anonim.

Pengamat politik Usman Hamid melihat penganugerahan ini dari sudut berbeda. "Pemerintah ingin merangkul semua spektrum politik. Dari Orde Baru sampai Reformasi," katanya dalam wawancara.

Sejarawan JJ Rizal mengingatkan pentingnya objektifitas. "Sejarah harus dilihat secara utuh. Bukan cuma hitam atau putih."

Warisan yang Abadi

Gelar Pahlawan Nasional bukan sekadar penghargaan. Ia simbol pengakuan negara. Bukti bahwa jasa tak akan terlupakan. Meski kontroversi mengiringi beberapa nama, keputusan telah diambil.

Sepuluh tokoh ini kini tercatat dalam lembaran emas sejarah Indonesia. Nama mereka akan diajarkan di sekolah. Patung mereka mungkin berdiri di alun-alun. Jalan-jalan akan dinamai menurut mereka.

Namun pertanyaan tetap mengambang. Apakah penganugerahan ini benar-benar objektif? Atau ada kepentingan politik terselubung? Publik berhak bertanya. Sejarah akan menilai.

Yang pasti, momen ini mengingatkan kita. Indonesia dibangun oleh banyak tangan. Dari berbagai latar belakang. Dengan cara berbeda-beda. Kontribusi mereka—kontroversial atau tidak—telah membentuk bangsa ini.

Di ujung upacara, Presiden Prabowo menutup dengan kalimat berkesan. "Kita hormati sejarah. Kita belajar dari masa lalu. Kita bangun masa depan lebih baik."

Halaman:

Editor: Nur Rafiqa

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini