Prabowo menegaskan perlunya akselerasi. Pabrik pengolahan sawit jadi BBM harus diperbanyak. Teknologi konversi perlu dikuasai menyeluruh. Bukan cuma teori di laboratorium. Harus aplikasi massal di lapangan.
"Kalau pabrik-pabrik pengolahan tidak siap," presiden mengingatkan, "kalau terjadi apa-apa, baru kita merasakan." Kalimat itu terdengar seperti warning. Peringatan untuk semua pemangku kepentingan. Pemerintah, swasta, akademisi, semua harus bergerak.
Konteks bencana Sumatera menjadi laboratorium nyata. Daerah terisolasi kesulitan BBM. Harga melonjak di pasaran gelap. Generator mati karena kehabisan solar. Rumah sakit terancam tutup. Komunikasi nyaris lumpuh total.
"Banyak jalur masih terputus," Prabowo akui. "Tapi kita segera melakukan segala upaya." Upaya itu termasuk pengiriman BBM via udara. Helikopter milik TNI diterjunkan. Kapal laut dikerahkan masuk pelabuhan kecil. Jalur alternatif terus dicari.
Alhamdulillah, kata presiden, Indonesia mampu mengatasi sendiri. Tidak perlu bantuan asing untuk krisis ini. "Kita mengatasi masalah dengan kita sendiri," ujarnya penuh keyakinan. Namun, bayangan krisis lebih besar menghantui. Bagaimana jika perang global betul-betul terjadi? Bagaimana jika jalur impor BBM tertutup permanen?
Baca Juga: Mekanisme At Cost Jadi Senjata BGN Cegah PHK Relawan Dapur di Tengah Penyusutan Penerima Manfaat MBG
Artikel Terkait
867 Nyawa Melayang, 521 Korban Masih Hilang: Pencarian Terus Berlanjut di Tiga Provinsi
Tanpa Perlindungan Hak Cipta, Industri Media Indonesia Berjuang di Tengah Gempuran Platform Digital
23 Izin Tambang di Tiga Provinsi Terancam Dicabut Pasca Banjir Besar Sumatera
WALHI Bongkar Fakta Miris, Perusahaan Tambang Abaikan Reklamasi - Sawit Malah Menggurita di Lahan Bekas Galian
Mekanisme At Cost Jadi Senjata BGN Cegah PHK Relawan Dapur di Tengah Penyusutan Penerima Manfaat MBG