Bencana Sumatera memang tragedi kemanusiaan. Ribuan jiwa terenggut. Puluhan ribu lainnya kehilangan tempat tinggal. Di tengah duka mendalam ini, publik berharap semua pihak fokus pada pemulihan. Bukan tersandung debat kusir soal siapa paling berjasa.
Ferry Irwandi menutup unggahannya dengan harapan sederhana. Ia ingin semua pihak bersinergi. Negara, swasta, masyarakat sipil, dan relawan bahu-membahu. Karena pada akhirnya, korban bencana tidak peduli dari mana bantuan datang. Yang mereka butuhkan adalah uluran tangan nyata. Cepat. Tepat sasaran.
Dalam hiruk pikuk perdebatan, kita kadang lupa satu hal. Kemanusiaan tidak mengenal sekat. Tidak ada ukuran paling mulia antara triliunan atau miliaran rupiah. Yang ada hanya satu: kepedulian tulus untuk sesama.
Maka biarkanlah polemik ini berlalu. Seperti air yang mengalir mencari muaranya. Energi kita lebih bermanfaat jika dicurahkan untuk membangun kembali apa yang hancur. Bukan untuk mempertahankan ego yang rapuh.
Baca Juga: Keterlambatan Bantuan Picu Desakan Penetapan Bencana Nasional di Sumatera
Artikel Terkait
Menteri LH Temukan Jejak Material Tak Wajar di Banjir Tapanuli, 4 Perusahaan Dihentikan
Akses Terputus, Tim PLN Kejar Deadline Presiden Pulihkan Listrik Aceh 93 Persen Malam Ini dengan Helikopter
Murka di Rapat Aceh, Prabowo Langsung Perintahkan Mendagri Copot Bupati yang Umrah Saat Bencana
Keterlambatan Bantuan Picu Desakan Penetapan Bencana Nasional di Sumatera
Platform Digital Bakal Kena Sanksi Jika Bobol Dimasuki Anak di Bawah Umur
Ancaman Ganda: BMKG Deteksi Dua Bibit Siklon Tropis Muncul Bersamaan di Perairan Indonesia