• Selasa, 21 Juli 2026

Ancaman Ganda: BMKG Deteksi Dua Bibit Siklon Tropis Muncul Bersamaan di Perairan Indonesia

.
Nur Rafiqa, Sulawesi Today
- Senin, 8 Desember 2025 | 20:05 WIB
BMKG deteksi dua bibit siklon tropis 93W dan 91S. Ancaman hujan lebat dan gelombang tinggi mengintai wilayah Indonesia. Waspada!
BMKG deteksi dua bibit siklon tropis 93W dan 91S. Ancaman hujan lebat dan gelombang tinggi mengintai wilayah Indonesia. Waspada!

Sulawesitoday - Langit Indonesia kembali dibayangi ancaman ganda. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini pada Senin, 8 Desember 2025, setelah dua bibit siklon tropis terdeteksi hampir bersamaan di perairan sekitar Nusantara. Fenomena kemunculan simultan ini—yang terbilang jarang—memicu kekhawatiran akan cuaca ekstrem dalam beberapa hari mendatang.

Dua sistem atmosfer itu diberi kode Bibit Siklon Tropis 93W dan 91S. Keduanya kini bergerak di posisi strategis: satu mengancam dari utara, satunya dari barat daya. Meski BMKG menyatakan potensi perkembangan kedua bibit ini masih dalam kategori rendah, dampak tidak langsungnya sudah mulai terasa. Hujan lebat, angin kencang, dan gelombang laut tinggi diprediksi melanda sejumlah wilayah coastal Indonesia.

Yang membuat situasi ini cukup menarik adalah timing kemunculannya. Bibit siklon 93W terbentuk lebih dulu pada 28 November 2025, sementara siklon 91S baru muncul 7 Desember—beda waktu tidak sampai sepuluh hari. Dalam catatan meteorologi, kemunculan dua bibit siklon dalam jarak waktu sedekat ini di perairan Indonesia cukup langka. Sebuah pertanda bahwa dinamika atmosfer regional sedang dalam fase aktif.

Bagaimana Kondisi Bibit Siklon 93W di Utara?

Bibit Siklon Tropis 93W pertama kali terpantau di Samudra Pasifik Utara, tepatnya di timur laut Pulau Papua. Sistem ini terus bergeser ke arah barat. Saat ini, pusat sirkulasinya terdeteksi di sekitar Kepulauan Samar, Filipina—atau kalau ditarik garis lurus, berada di sebelah utara Sulawesi Utara.

Data terkini BMKG mencatat kecepatan angin maksimum siklon 93W mencapai 20 knot atau setara 37 kilometer per jam. Tekanan udara minimum di pusatnya tercatat 1005 hPa. Angka-angka ini menunjukkan sistem masih dalam fase awal. Belum cukup kuat untuk dikategorikan sebagai siklon tropis penuh, namun sudah mulai menunjukkan tanda-tanda aktivitas konvektif yang signifikan.

"Saat ini pusat sirkulasi terdeteksi di sekitar Kepulauan Samar, Filipina, sebelah utara Sulawesi Utara, dengan kecepatan angin maksimum sekitar 20 knot (37 km/jam) dan tekanan udara minimum 1005 hPa," demikian bunyi pernyataan resmi BMKG yang dirilis Senin kemarin.

Meski potensi berkembang dalam 24 hingga 72 jam ke depan tergolong rendah, dampak tidak langsung tetap mengintai. Wilayah yang paling rentan merasakan dampaknya adalah Kalimantan Utara hingga Sulawesi Utara. Hujan dengan intensitas sedang hingga lebat berpotensi mengguyur kawasan tersebut.

Tak hanya hujan. Gelombang laut juga diprediksi meninggi. Ketinggian 1,25 hingga 2,5 meter—atau dalam kategori *moderate sea*—diperkirakan terjadi di beberapa perairan strategis: Kepulauan Sangihe-Talaud, Raja Ampat bagian utara, serta Samudra Pasifik utara Maluku hingga Papua. Nelayan dan pelayaran laut diminta waspada.

Apa yang Terjadi dengan Siklon 91S di Barat Daya?

Sementara itu, di sisi barat Indonesia, Bibit Siklon Tropis 91S mulai menunjukkan eksistensinya. Sistem ini terbentuk pada 7 Desember 2025 di wilayah Samudra Hindia barat daya Lampung. Posisinya cukup strategis—berada di jalur lalu lintas cuaca yang kerap mempengaruhi kondisi atmosfer Sumatera bagian selatan dan Jawa bagian barat.

Kecepatan angin maksimum siklon 91S tercatat 15 knot atau sekitar 28 kilometer per jam. Tekanan udara minimum di pusatnya mencapai 1010 hPa. Angka ini sedikit lebih lemah dibanding siklon 93W, namun bukan berarti bisa diabaikan begitu saja. Dalam dunia meteorologi, siklon dengan kecepatan angin di bawah 34 knot memang belum dikategorikan sebagai *tropical depression*, tapi tetap bisa memicu gangguan cuaca signifikan.

"Potensi Bibit Siklon Tropis 91S untuk berkembang menjadi siklon tropis dalam 24–72 jam ke depan dalam kategori rendah," tulis BMKG dalam rilisnya. Namun frasa "kategori rendah" ini sering disalahpahami publik. Bukan berarti tidak ada bahaya sama sekali. Dampak tidak langsung berupa hujan lebat dan gelombang tinggi tetap mengancam wilayah barat Indonesia.

Wilayah yang diprediksi merasakan dampak siklon 91S antara lain Bengkulu hingga Lampung. Hujan dengan intensitas sedang hingga lebat berpotensi terjadi di sepanjang koridor pesisir barat Sumatera. Sementara itu, gelombang laut setinggi 1,25 hingga 2,5 meter diperkirakan terjadi di Samudra Hindia barat Aceh hingga Lampung, perairan barat Lampung, serta Samudra Hindia selatan Jawa.

Halaman:

Editor: Nur Rafiqa

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini