• Selasa, 21 Juli 2026

Terisolasi 3 Jam, Warga Bener Meriah Serbu Mobil Bak Berisi Drum BBM di Kampung Kem

.
Muhammad Aqil Azizi, Sulawesi Today
- Jumat, 12 Desember 2025 | 16:02 WIB
Warga Bener Meriah rela jalan kaki 3-4 jam melewati jalur longsor demi BBM. 46.611 jiwa masih terisolasi di Kampung Kem, Aceh.
Warga Bener Meriah rela jalan kaki 3-4 jam melewati jalur longsor demi BBM. 46.611 jiwa masih terisolasi di Kampung Kem, Aceh.

Sulawesitoday - Drum-drum penuh minyak berbaris di bak terbuka. Warga datang bergerombol. Mereka mengelilingi mobil itu seperti oase di tengah gurun. Ini bukan pasar biasa. Ini "pasar minyak dadakan" yang lahir dari keterisolasian.

Senin, 8 Desember 2025, pemandangan tak biasa terjadi di Kampung Kem, Bener Meriah, Aceh. Puluhan warga dari berbagai penjuru—Takengon hingga wilayah sekitar—berbondong menuju satu titik. Tujuannya sederhana namun krusial: mendapatkan Bahan Bakar Minyak (BBM) dan sembako yang kini jadi barang langka.

Video yang beredar di media sosial menunjukkan betapa desperatnya situasi ini. Warga berdesakan mengelilingi beberapa mobil bak terbuka. Di dalam bak itu, drum-drum berisi BBM tertata rapi. Latar belakangnya lebih mencekam: tebing dengan bekas longsoran tanah yang masih merah segar, mengingatkan betapa rapuhnya akses menuju kawasan ini.

  • Mengapa Warga Harus Berjalan Sejauh Itu?

Jawabannya terletak pada kondisi geografis yang kini berubah jadi mimpi buruk logistik. Jalur KKA (Krueng Kala Aceh) yang menghubungkan Bener Meriah dengan Aceh Utara kini nyaris lumpuh. Longsoran tanah menutup akses utama. Alat berat bekerja keras, tapi hasilnya belum signifikan.

Seorang warga yang diabadikan dalam video terpisah mengungkapkan realitas pahit ini. "Tiga jam sampai empat jam lah pokoknya untuk mendapat beras ini di Kampung Kem," ujarnya dengan nada lelah namun penuh determinasi. Suaranya mencerminkan ribuan suara lain yang tak terdengar.

Perjalanan tiga hingga empat jam itu bukan jalur aspal mulus. Warga harus melintasi bekas longsoran. Tanah masih labil. Bahaya mengintai setiap langkah. Namun pilihan mereka terbatas: berjalan atau kelaparan.

  • Berapa Banyak Jiwa yang Masih Terjebak?

Data dari Pemerintah Provinsi Aceh mencatat angka yang mengkhawatirkan. Sebanyak 46.611 jiwa di Bener Meriah masih terisolasi. Mereka terjebak dalam sulitnya akses dan minimnya bantuan yang masuk. Angka ini bukan sekadar statistik. Ini adalah manusia dengan kebutuhan dasar yang belum terpenuhi.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengakui pembukaan akses di Bener Meriah masih jadi pekerjaan rumah besar. Medan sulit. Cuaca tak bersahabat. Infrastruktur rusak parah. Bantuan yang datang pun belum optimal menjangkau semua wilayah.

Kondisi ini memaksa masyarakat berkreasi mencari solusi sendiri. Lahirlah "pasar minyak dadakan" di Kampung Kem. Mobil-mobil bak terbuka dengan drum BBM jadi penyelamat sementara. Meski harganya mungkin lebih mahal, warga tak punya pilihan lain.

  • Jalur KKA: Nadi yang Tersumbat

Jalur KKA bukan sekadar jalan biasa bagi warga Bener Meriah. Ini adalah nadi kehidupan yang menghubungkan mereka dengan dunia luar. Ketika jalur ini tersumbat, seluruh sistem distribusi lumpuh. Beras, BBM, obat-obatan, semua terhambat.

Update per 9 Desember 2025 menunjukkan alat berat sudah mulai bekerja membuka jalur. Namun prosesnya lambat. Sementara itu, masyarakat tak bisa menunggu. Mereka tetap berjalan kaki, menembus bahaya, demi sesuap nasi dan seteguk bensin.

Pemandangan warga melintasi bekas longsoran sambil membawa karung beras dan jerigen BBM jadi potret buram penanganan bencana. Pertanyaannya: sampai kapan mereka harus bertahan dengan cara seperti ini?

  • Bantuan yang Tak Kunjung Optimal

BNPB dan Pemda Aceh telah menggelontorkan bantuan. Helikopter terbang membawa logistik. Truk-truk besar mencoba menembus jalur alternatif. Namun faktanya, 46.611 jiwa itu masih menunggu. Masih terisolasi. Masih harus berjalan kaki tiga hingga empat jam.

Ada kesenjangan antara upaya dan hasil. Antara janji dan realitas di lapangan. Warga Kampung Kem yang berkerumun di sekitar mobil bak terbuka itu adalah bukti nyata: bantuan belum merata, belum efektif, belum menyentuh semua yang membutuhkan.

Halaman:

Editor: Muhammad Aqil Azizi

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini