Pelajaran dari Tapanuli: Gap Antara Digital dan Realitas
Kunjungan ke Tapanuli Selatan membuka mata Suharyanto. Banjir bandang meluluhlantakkan pemukiman. Jalan terputus. Jembatan roboh. Ratusan rumah tersapu arus. Korban jiwa terus bertambah. Ini bukan sekadar "mencekam di media sosial".
Surprise yang dialami Suharyanto sebenarnya tidak perlu terjadi. Seandainya sistem informasi bencana berfungsi. Data real-time tersedia. Koordinasi cepat terjalin. Pejabat akan tahu kondisi sesungguhnya tanpa harus turun langsung.
Media sosial memang kerap melebih-lebihkan. Konten viral tidak selalu akurat. Namun ketika lembaga resmi tidak punya alternatif data lebih baik, masalahnya bukan pada medsos. Masalahnya pada sistem yang gagal menyediakan informasi valid.
Kontroversi ini menyisakan pertanyaan fundamental. Jika BNPB sebagai garda terdepan saja tidak punya infrastruktur informasi memadai, bagaimana nasib jutaan warga di zona rawan bencana? Siapa yang akan memberi peringatan ketika ancaman datang?
Baca Juga: Komedian Ungkap Kondisi Ciputat, Sampah Menumpuk dari Pasar hingga Kampus
Artikel Terkait
Nama Wakapolda Sulteng Masuk Pusaran Isu Bekingi PETI Parigi Moutong, Helmy: Sudah Saya Suruh Tangkap
Jejak Alan dalam Proyek Rehab Ruangan Wabup Parimo, PPK Akui Hanya Tahu Nama - Publik Curiga Nepotisme
Oknum Pengumpul Fee PETI Parigi Moutong Diduga Miliki Bekingan Kuat, Pungutan 12 Persen Jadi Sorotan
Sepiring Nasi Padang Jadi Kemewahan Bagi Pengungsi Banjir Aceh Tamiang Setelah 2 Minggu Bertahan dengan Mie Instan
Komedian Ungkap Kondisi Ciputat, Sampah Menumpuk dari Pasar hingga Kampus