Sulawesitoday - Tumpukan sampah merebak. Kawasan Ciputat kini dipenuhi limbah tak terangkut. Kondisi ini menyita perhatian publik setelah komedian David Nurbianto angkat bicara melalui media sosial, Sabtu 13 Desember 2025.
David, melalui akun Instagram @david_nurbianto, membeberkan realita kelam pengelolaan sampah di Tangerang Selatan. Ia menyebut Ciputat sudah masuk zona darurat. "Ciputat darurat sampah, tangsel bagaimana ini?" tanya David dalam video yang diunggahnya.
Pertanyaan itu bukan sekadar retorika. Sampah berserakan di berbagai titik. Dari pasar tradisional hingga koridor jalan utama. Semuanya terlihat terbengkalai tanpa kepastian pengangkutan.
-
Bau Menyengat Selimuti Pasar Ciputat
Pasar Ciputat menjadi sorotan utama. David menyebut aroma menyengat tercium kuat. Sampah menumpuk di setiap sudut. Bahkan di bawah Flyover Ciputat, tumpukan limbah terlihat jelas.
"Pasar Ciputat bau banget itu, di setiap sudut sampah numpuk, di bawah fly over," kata David dengan nada kesal.
Kondisi serupa meluas ke sepanjang jalan. Dari Flyover Ciputat memanjang hingga kawasan Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ). Di depan deretan ruko, sampah menggunduk tak terangkut. Pemandangan yang kontras dengan citra kota modern.
"Dari flyover Ciputat sampai UMJ, di depan-depan ruko, sampah belum pada diangkut," tegas David.
Pengangkutan yang terlambat membuat sampah kian menumpuk. Aktivitas warga terganggu. Jalanan berubah menjadi tempat pembuangan sementara yang tak sementara.
-
Kenapa Kota Elite Malah Darurat Sampah?
Ironi mencolok tercipta di Tangerang Selatan. Kota yang dikenal dengan hunian mewah dan fasilitas modern ini ternyata gagal mengelola sampah. David menyindir kondisi tersebut dengan tegas.
"Jadi warga tangsel banyak banget ironinya, perumahan elit banyak, lapangan padel banyak," ujar David.
Pembangunan infrastruktur olahraga dan properti premium terus berlanjut. Namun masalah mendasar seperti pengelolaan limbah domestik justru terabaikan. Pertanyaan mendasar pun muncul: ke mana seharusnya warga membuang sampah?
"Cuma ini buang sampahnya di mana? Masa di jalanan?" tanya David dengan nada satir.
Ketimpangan ini mencerminkan prioritas pembangunan yang keliru. Kemewahan infrastruktur tidak sebanding dengan pelayanan publik dasar. Sampah yang menumpuk menjadi bukti nyata kegagalan sistem.
Siapa yang Bertanggung Jawab?
David tidak hanya mengeluh. Ia menuntut akuntabilitas pemerintah daerah. Menurutnya, kondisi darurat sampah ini membutuhkan respons cepat dari pemimpin.
Artikel Terkait
Amplop Cokelat di Meja RT
Nama Wakapolda Sulteng Masuk Pusaran Isu Bekingi PETI Parigi Moutong, Helmy: Sudah Saya Suruh Tangkap
Jejak Alan dalam Proyek Rehab Ruangan Wabup Parimo, PPK Akui Hanya Tahu Nama - Publik Curiga Nepotisme
Oknum Pengumpul Fee PETI Parigi Moutong Diduga Miliki Bekingan Kuat, Pungutan 12 Persen Jadi Sorotan
Sepiring Nasi Padang Jadi Kemewahan Bagi Pengungsi Banjir Aceh Tamiang Setelah 2 Minggu Bertahan dengan Mie Instan