Sulawesitoday - Sebuah video menyentuh beredar luas. Seorang ketua posko pengungsian menolak bantuan. Bukan karena angkuh. Justru karena nurani.
Pria itu berdiri tegak. Wajahnya tenang namun tegas. Di tangannya tak ada sekarung beras pun yang ia ambil untuk poskonya. Keputusan langka di tengah bencana. Keputusan yang menampar banyak sikap rakus di masa krisis.
Video yang diunggah akun Instagram @alkadrilubis itu merekam momen langka. Momen ketika kepentingan kolektif mengalahkan ego kelompok. Pascabanjir yang melanda wilayah Aceh, bantuan logistik mengalir. Namun distribusinya? Masih jadi tanda tanya besar.
-
Kenapa Bantuan Ditolak?
Ketua posko itu punya alasan kuat. Stok berasnya masih mencukupi. Lima hari ke depan aman. Sementara di Kampung Sekumur, ceritanya berbeda. Tiga ratus kepala keluarga terancam kelaparan. Stok mereka hanya bertahan sehari.
"Ada kampung Sekumur 300 KK orang hilang," ujarnya dalam rekaman. Suaranya datar tapi penuh kepedulian. Ia paham betul prioritas kemanusiaan.
Kampung Sekumur bukan sekadar nama. Itu adalah alamat keputusasaan. Banjir merendam seluruh wilayah. Warga mengungsi dalam jumlah masif. Bahkan ada yang hilang tersapu arus. Kondisi darurat level tinggi.
Pemberi bantuan tampak terkesan. Jarang mereka temui penolakan semacam ini. Biasanya bantuan diterima mentah-mentah. Bahkan diminta lebih banyak lagi. Tapi pria ini berbeda.
"Kami arahkan ke sana pak, beras lagi pak, siapa yang enggak mau?" katanya dengan nada retoris. Pertanyaan yang menampar. Pertanyaan yang menggugat sikap serakah banyak pihak.
-
Bagaimana Kondisi Stok di Dua Lokasi?
Perbandingannya gamblang. Posko yang dipimpin pria itu masih punya persediaan. Beras, mie instan, air bersih. Semuanya cukup untuk lima hari mendatang. Jumlah pengungsi terkendali. Sekitar seratus kepala keluarga.
Di sisi lain, Kampung Sekumur lumpuh total. Akses jalan terputus banjir. Bantuan sulit masuk. Stok logistik menipis drastis. Hanya bertahan untuk makan satu kali. Besok? Entah dapat dari mana.
"Stok kami masih cukup untuk 5 hari, kalau mereka paling untuk 1 hari," paparnya membandingkan. Data faktual tanpa embel-embel. Transparansi penuh.
Keputusannya bukan tanpa pertimbangan matang. Ia sudah menghitung kebutuhan poskonya. Menghitung sisa hari pengungsian. Menghitung kapan bantuan berikutnya datang. Semuanya sudah dipetakan.
Lalu ia melihat kampung sebelah. Melihat sesama yang lebih menderita. Pilihanya jatuh pada kemanusiaan. Bukan pada akumulasi bantuan untuk kelompoknya sendiri.
-
Apa Pesan Moral dari Aksi Ini?
Di akhir penjelasannya, ketua posko menyampaikan pesan. Pesan yang sederhana namun menohok. Tentang keserakahan yang harus dijauhi. Terutama di masa musibah.
Artikel Terkait
Sambil Panggul Logistik, Warga Korban Banjir Aceh Justru Kuatkan Hati Mualem
Video Call Pertama Usai Banjir, Ayah di Aceh Tamiang Menangis Haru
Oknum Penegak Hukum Diduga Kendalikan Akses Alat Tambang Ilegal Lambunu
Ngeri-Ngeri Sedap, Warga Beutong Ateuh Nekat Seberangi Sungai Deras Lewat Jembatan Kayu Darurat
72 Jam Tanpa Air Bersih, Ibu Korban Banjir Aceh Tamiang Ungkap Perjuangan Bertahan Hidup