Namun, penjelasan teknis ini tak cukup memuaskan publik. Banyak yang bertanya, mengapa banjir kali ini begitu dahsyat? Apakah benar hanya karena hujan? Atau ada faktor lain yang selama ini diabaikan?
Siapa yang Harus Bertanggung Jawab?
Ini pertanyaan paling susah dijawab. Proyek PLTP mangkrak meninggalkan jejak kerusakan. Alih fungsi lahan terus terjadi tanpa pengawasan ketat. Aktivitas penambangan diduga masih berlangsung. Sementara itu, pemerintah dan pelaku usaha saling lempar tanggung jawab.
Rieke Diah Pitaloka menegaskan perlunya pengusutan tuntas. "Kerusakan hutan di kawasan Gunung Slamet harus dipertanggungjawabkan," katanya. Ia mendesak audit lingkungan menyeluruh sebelum ada pembicaraan soal kelanjutan proyek apapun di kawasan tersebut.
Sementara itu, warganet terus menyuarakan keprihatinan mereka. Media sosial menjadi ruang publik baru untuk menuntut keadilan ekologis. Mereka tak mau banjir bandang Guci hanya jadi berita sesaat yang kemudian dilupakan. Ada tuntutan lebih besar: pemulihan hutan, pengawasan ketat, dan pertanggungjawaban hukum bagi pihak yang merusak lingkungan.
Baca Juga: Banjir Lumpur Sapu Pancuran 13 Guci, Warganet Sorot Aktivitas di Lereng Slamet
Artikel Terkait
Seribu Relawan BUMN Dikerahkan, Danantara Buktikan Tanggung Jawab Kebangsaan di Tengah Bencana Sumatera
Kantor Polsek Muara Batang Gadis Hangus Dibakar Massa, Dipicu Pelepasan Terduga Pengedar Narkoba
Krisis Gas LPG di Takengon, Warga Berburu Kayu Hanyut di Sungai untuk Nyalakan Dapur
Viral Video Anak Aceh Tolak Uang Relawan, Bagi Rambutan Gratis di Tengah Banjir
Banjir Lumpur Sapu Pancuran 13 Guci, Warganet Sorot Aktivitas di Lereng Slamet