• Selasa, 21 Juli 2026

Tangisan Hati Anak Aceh: Minta Presiden Prabowo Turunkan Alat Berat dan Kirim Sepatu Boot

.
Nur Rafiqa, Sulawesi Today
- Minggu, 21 Desember 2025 | 18:25 WIB
Anak-anak korban banjir Aceh memohon Presiden Prabowo kirim alat berat dan sepatu boot. Kaki mereka terluka kena paku dan kaca
Anak-anak korban banjir Aceh memohon Presiden Prabowo kirim alat berat dan sepatu boot. Kaki mereka terluka kena paku dan kaca

Sulawesitoday - Lumpur tebal masih menyelimuti pemukiman. Kayu gelondongan berserakan. Di antara puing bencana itu, suara anak-anak mulai menggema. Bukan tangisan. Bukan keluhan kosong. Melainkan permohonan konkret kepada pemimpin tertinggi negeri ini.

Video berdurasi singkat di platform TikTok menjadi jendela ke realitas pahit yang kini dihadapi generasi muda di zona bencana Aceh. Akun @Geri Sugata, Sabtu 20 Desember 2025, mengunggah rekaman yang memperlihatkan sekelompok anak berdiri kokoh di tengah reruntuhan masa depan mereka. Mata mereka menatap kamera. Bibir kecil mereka mengucap harapan yang seharusnya menjadi tanggung jawab orang dewasa.

"Pak Prabowo tolong datang ke sini, bawa alat berat buat bersihkan ini," ujar salah satu bocah. Kata-katanya sederhana. Namun bobot permohonannya berat.

Permintaan tersebut bukan lahir dari imajinasi kanak-kanak yang naif. Mereka menyaksikan langsung bagaimana tenaga warga desa tak mampu mengangkat batang-batang kayu raksasa yang tersangkut di sela-sela rumah. Mesin besar diperlukan. Alat berat menjadi satu-satunya solusi untuk mengembalikan aksesibilitas ke kampung halaman mereka.

Mengapa Sepatu Boot Menjadi Kebutuhan Mendesak?

Di balik permintaan alat berat, ada permohonan lain yang terdengar lebih personal. Lebih menyayat. Anak-anak itu meminta sepatu boot. Perlengkapan yang mungkin terdengar sepele bagi sebagian orang, namun menjadi barier antara hidup dan luka bagi mereka.

"Pak Prabowo saya minta sepatu boot, kaki saya bolak-balik kena kaca, paku," sahut bocah lainnya. Suaranya memohon. Nadanya mencerminkan kepasrahan pada kondisi yang berulang kali melukai.

Lantai bumi yang harusnya menjadi pijakan aman kini berubah jadi ranjau tersembunyi. Pecahan kaca jendela yang hancur bercampur lumpur. Paku-paku berkarat dari konstruksi rumah yang roboh mengintai di setiap langkah. Tanpa alas kaki memadai, aktivitas sehari-hari seperti mencari air bersih atau menuju posko bantuan berubah menjadi perjalanan berbahaya.

Data dari lapangan menunjukkan ratusan anak di kawasan terdampak mengalami luka tusukan dan sayatan pada kaki mereka sejak banjir bandang melanda pekan lalu. Fasilitas kesehatan terbatas memperparah situasi. Risiko infeksi tetanus dan komplikasi lainnya menghantui setiap luka yang tidak tertangani dengan baik.

Apa yang Sebenarnya Terjadi di Balik Layar Video Viral Ini?

Viralnya video tersebut memicu pertanyaan. Apakah ini spontanitas anak-anak atau ada orkestrasi dari pihak dewasa? Namun, ekspresi wajah bocah-bocah itu sulit dipalsukan. Kelelahan terpancar jelas. Luka di kaki mereka nyata. Kondisi lingkungan yang terekam kamera tidak bisa disangkal.

Banjir bandang yang menerjang sejumlah kabupaten di Aceh pada pertengahan Desember 2025 meninggalkan jejak kerusakan masif. Ribuan rumah terendam. Infrastruktur hancur. Jalur distribusi bantuan terputus. Di tengah kekacauan tersebut, anak-anak menjadi kelompok paling rentan yang seringkali terlupakan dalam prioritas penanganan darurat.

Berbeda dengan bencana-bencana sebelumnya, kali ini anak-anak memilih tidak diam. Mereka menggunakan media sosial sebagai megafon untuk menyuarakan kebutuhan mereka. Generasi yang tumbuh dengan teknologi kini memanfaatkanya sebagai alat advokasi. Pertanyaannya: apakah suara mereka akan didengar hingga ke istana?

Respons Pemerintah: Hadir atau Absen?

Halaman:

Editor: Nur Rafiqa

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini