• Selasa, 21 Juli 2026

Puasa Tinggal Hitungan Hari, Warga Desa Sekumur Curhat Kekurangan Alat Ibadah ke Istri Gubernur Aceh

.
Nur Rafiqa, Sulawesi Today
- Minggu, 21 Desember 2025 | 18:07 WIB
Warga Desa Sekumur curhat ke istri Gubernur Aceh soal kekurangan alat ibadah jelang Ramadan. Logistik aman, tapi mukena masih langka.
Warga Desa Sekumur curhat ke istri Gubernur Aceh soal kekurangan alat ibadah jelang Ramadan. Logistik aman, tapi mukena masih langka.

Sulawesitoday - Logistik aman, namun mukena dan sajadah masih jadi barang langka. Itulah curhat polos warga Desa Sekumur kepada Marlina Usman, istri Gubernur Aceh Muzakir Manaf. Padahal, Ramadan tinggal menghitung hari.

Sudah 24 hari berlalu. Banjir bandang 27 November 2025 meninggalkan luka menganga di tiga provinsi Sumatera. Aceh Tamiang jadi salah satu wilayah terparah. Desa Sekumur kini terisolasi total setelah jembatan penghubung hanyut tersapu arus.

Marlina mengunggah video kunjungannya ke Sekumur melalui Instagram @marlinaausman pada Minggu, 21 Desember 2025. Dalam video berdurasi kurang dari dua menit itu, tampak kondisi desa yang nyaris lenyap. "Semuanya hancur luluh lantak, tak tersisa apapun yang bisa mereka gunakan untuk membangun lagi rumah mereka," tulis keterangannya.

Bagaimana Akses Menuju Desa Sekumur Saat Ini?

Perahu nelayan jadi satu-satunya jalan. Jembatan yang biasa menghubungkan desa dengan kota Tamiang kini tinggal kenangan. Warga harus menyeberangi sungai dengan perahu kayu bermesin sederhana.

"Akses menuju kampung Sekumur ini harus menggunakan perahu karena jembatan yang biasa mereka gunakan sudah terbawa arus," jelas Marlina. Perjalanan dari pusat kota memakan waktu dua jam. Itu belum termasuk trekking 800 meter di jalan berlumpur dari tepi sungai menuju posko pengungsian.

Sekitar 260 kepala keluarga dengan total 1.200 jiwa kini tinggal di tenda darurat. Terpal biru dan bambu jadi material utama hunian sementara mereka. Bahu-membahu, warga mendirikan shelter seadanya di atas tanah yang masih basah.

Apa Saja Kebutuhan Mendesak Warga Sekumur?

Salah satu warga berbincang langsung dengan Marlina. Ia mengaku bantuan logistik cukup memadai. "Alhamdulillah ada donasi masyarakat, dari luar sana ada bantuan. Misal sembako, Alhamdulillah udah aman," katanya.

Namun, soal peralatan ibadah ceritanya lain. "Yang jelas, yang tercepat alat sarana ibadah, Bu. Kebetulan puasa udah nggak lama lagi," lanjut warga tersebut dengan nada memohon. Mukena, sarung, sajadah, dan Al-Quran menjadi barang yang sangat dibutuhkan menjelang bulan suci Ramadan.

Anak-anak pun punya daftar kebutuhan sendiri. Seorang bocah mengungkapkan keinginannya kepada Marlina. "Minta sepatu sama baju sekolah terus peralatan sekolah. Itu juga sama Al-Quran karena pada hanyut," ujarnya polos.

Marlina mencatat beberapa kebutuhan prioritas dalam unggahannya: tenda layak, sistem penyaringan air bersih, genset dengan lampu penerangan, serta perlengkapan sarana ibadah. Semua item itu jadi daftar tunggu yang belum terpenuhi hingga hari ke-24 pasca bencana.

Mengapa Puing-Puing Kayu Belum Dibersihkan?

Hamparan kayu dengan berbagai ukuran masih mendominasi lanskap Desa Sekumur. Potongan-potongan kayu itu bukan hanya rongsokan biasa—mereka adalah sisa-sisa rumah warga yang hancur dihantam banjir. Ironisnya, kayu-kayu tersebut kini malah dijadikan jalan darurat oleh warga.

Halaman:

Editor: Nur Rafiqa

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini