Sulawesitoday - Tubuh kurus itu berlari tanpa alas kaki. Tanpa baju. Menghampiri mobil relawan yang baru tiba di pemukiman gelap gulita. "Bu, baju ada?" tanya bocah laki-laki itu dengan suara lirih. Di belakangnya, anak-anak lain ikut mendekat. Mereka butuh selimut untuk tidur malam yang dingin.
Ini bukan kejadian kemarin. Bukan pula minggu lalu. Sudah sebulan berlalu sejak banjir bandang pertama menghantam Sumatera di penghujung November 2025. Namun, di Desa Babo yang terisolir di Kecamatan Bandar Pusaka, bantuan sandang masih menjadi barang langka. Momen memilukan ini terekam dalam video yang diunggah akun Instagram @vitadaud19 pada Sabtu, 27 Desember 2025.
Bencana yang melumpuhkan tiga provinsi—Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat—kini memasuki fase pascadarurat yang masih penuh tantangan. Bantuan logistik memang terus berdatangan dari berbagai pihak. Relawan turun tangan. Pemerintah menggelontorkan anggaran. Tapi realitas di lapangan bercerita lain. Distribusi tak merata. Akses jalan terputus. Sejumlah wilayah masih terlupakan.
Mengapa Bantuan Belum Sampai Merata?
Geografis menjadi musuh terbesar. Jalan menuju Desa Babo rusak parah, sebagian longsor, sebagian lagi tertimbun lumpur setinggi lutut orang dewasa. Mobil bantuan harus memutar jauh. Waktu tempuh yang biasanya satu jam kini membengkak jadi empat jam. Belum lagi cuaca yang tak menentu. Hujan deras kerap memblokir akses yang sudah susah payah dibuka.
Kondisi ini bukan hanya terjadi di Aceh Tamiang. Beberapa kantong pengungsian di Sumatera Utara dan Sumatera Barat mengalami nasib serupa. Bantuan menumpuk di posko utama. Tapi perjalanan terakhir ke titik pengungsian terjauh? Itu yang jadi soal.
"Mereka butuh logistik lilin, genset, alas tidur, dan lainnya. Mereka hidup dalam gelap, sudah satu bulan," ujar pemilik video yang memperlihatkan kondisi miris Desa Babo. Suaranya bergetar. Menahan emosi.
Bagaimana Kondisi Listrik di Pengungsian?
Bayangkan hidup tanpa cahaya selama 30 hari lebih. Matahari terbenam pukul enam sore. Gelap menelan desa hingga fajar. Tidak ada lampu jalan. Tidak ada listrik rumah. Bahkan tidak ada penerangan darurat yang memadai.
"Satu bulan gelap, nggak ada lampu sampai detik ini," lanjut narator video dengan nada prihatin. Listrik padam total. PLN belum bisa memulihkan jaringan karena tiang-tiang transmisi roboh terseret banjir. Gardu induk terendam. Perbaikan membutuhkan waktu berbulan-bulan.
Warga hanya mengandalkan lilin seadanya. Genset? Barang mewah yang tak semua punya. Bahkan baterai ponsel pun harus diisi di pos relawan yang jaraknya puluhan kilometer. Komunikasi dengan keluarga di luar daerah jadi sulit. Anak-anak belajar di kegelapan. Ibu-ibu memasak dengan cahaya minim.
Seberapa Parah Kerusakan di Desa Babo?
Marlina Usman, istri Gubernur Aceh, memberikan keterangan mengejutkan. Air banjir yang menghantam Desa Babo mencapai ketinggian 15 meter saat puncaknya. Lima belas meter. Setara gedung lima lantai. Angka yang sulit dipercaya namun itulah kenyataannya.
Rumah-rumah warga tak berkutik. Terseret arus deras bagai mainan. Struktur kayu ambruk. Dinding beton retak dan runtuh. Aktivitas ekonomi lumpuh total dalam hitungan jam. Pasar tradisional tenggelam. Sawah terendam lumpur setebal meter. Ternak mati atau hanyut.
Artikel Terkait
MAKI Laporkan Dugaan Korupsi Tambang Nikel Konawe Utara ke Kejagung Usai KPK Terbitkan SP3
DPR Khawatir Bendera GAM di Aceh Picu Perpecahan, Momentum Bencana Jadi Taruhan
Emas Haram di Parimo: Deru Mesin, Bisikan Restu dan APH Buta
Tengah Malam di Bekasi, Gus Yazid Diborgol—Aliran Dana Rp20 Miliar dari Jenderal Terbongkar
Banjir Bandang Tebing Tinggi: Warga Bertahan di Atap Ambulans Saat Air Kepung Pemukiman