• Selasa, 21 Juli 2026

Skenario Darurat Selat Hormuz, Indonesia Alihkan Pasokan Minyak dari Timur Tengah

.
Dwi Rahayu Putri, Sulawesi Today
- Selasa, 3 Maret 2026 | 21:12 WIB
Antisipasi penutupan Selat Hormuz, Menteri Bahlil alihkan impor minyak ke Amerika & Afrika guna jamin stok BBM serta LPG nasional tetap aman terkendali
Antisipasi penutupan Selat Hormuz, Menteri Bahlil alihkan impor minyak ke Amerika & Afrika guna jamin stok BBM serta LPG nasional tetap aman terkendali

Sulawesitoday - Selat Hormuz lagi panas. Benar-benar panas. Amerika dan Israel sedang bersitegang dengan Iran. Kalau selat itu ditutup, dunia kiamat kecil. Setidaknya kiamat bagi urusan perut mesin.

Bayangkan saja. Ada 20 juta barel minyak mentah yang lewat di sana. Saban hari. Begitu kerannya mampet karena konflik, harga minyak dunia bakal terbang ke langit.

Indonesia pun tidak mau jadi korban.

Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, bergerak cepat. Rabu kemarin, ia mengumpulkan orang-orang pintar di Dewan Energi Nasional (DEN). Rapatnya serius. Agendanya tunggal: bagaimana caranya supaya dapur rakyat tetap mengepul kalau Hormuz benar-benar dikunci.

Selama ini, Indonesia masih bergantung pada Timur Tengah. Sekitar 20 sampai 25 persen minyak mentah kita datang dari sana. Angka itu besar. Kalau pasokan itu hilang, kilang kita bisa batuk-batuk.

"Skenarionya adalah sekarang ini untuk crude yang kita ambil dari Timur Tengah, sebagian kita alihkan untuk ambil dari Amerika," ujar Bahlil.

Logikanya sederhana: cari sumber yang jauh dari zona api.

Maka, arah kompas impor mulai bergeser. Mata pemerintah kini melirik Afrika dan Amerika Selatan. Jauh memang. Ongkos angkut mungkin naik, tapi kepastian barang itu jauh lebih mahal harganya.

Untungnya, untuk urusan bensin—RON 90 sampai 98—kita tidak ambil dari Timur Tengah. Kebanyakan justru dari tetangga dekat di Asia Tenggara. Solar pun sudah tidak perlu impor lagi. Kita sudah swasembada untuk yang satu itu.

"Jadi ini relatif tidak ada masalah," tegas Bahlil.

Yang agak mendebarkan adalah LPG. Kebutuhan kita naik terus. Tahun ini saja tembus 7,8 juta ton. Syukurlah, 70 persen pasokan gas melon itu sudah diamankan dari Amerika.

Presiden Prabowo Subianto rupanya sudah mewanti-wanti. Jangan sampai rakyat susah. Kalkulasi dampak kenaikan harga minyak terhadap APBN harus presisi. Jangan ada layanan yang terganggu.

"Arahan Bapak Presiden adalah kita harus sangat berhati-hati menghitung semuanya," tambah sang Menteri.

Apalagi sebentar lagi Lebaran. Orang mau mudik. Orang mau masak opor. Kalau BBM dan gas hilang di pasar, urusannya bisa panjang.

Halaman:

Editor: Dwi Rahayu Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini