Sulawesitoday - PSSI dulu sulit menang. Penyebabnya klasik: urusan perut. Alias gizi yang kurang nendang. Itulah pengamatan tajam dari Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana.
Logikanya sederhana. Banyak pemain bola hebat lahir dari kampung. Bakatnya melimpah, tapi asupan gizinya pas-pasan. Akibatnya, stamina loyo di menit-menit krusial.
“Jangan heran kalau PSSI dulu sulit menang, karena gizinya tidak bagus,” ujar Dadan dalam sebuah acara baru-baru ini.
Namun, wajah Timnas Indonesia kini mulai berubah. Lebih segar. Lebih bertenaga. Rahasianya? Ternyata ada campur tangan gizi dari Negeri Kincir Angin.
Publik mencatat ada sekitar 17 pemain yang kini memperkuat skuad Garuda merupakan "produk" dari sistem nutrisi yang mapan di Eropa. Mereka tumbuh besar dengan standar asupan yang ketat sejak dini.
“Sekarang PSSI sudah agak baik karena 17 pemainnya merupakan produk makan bergizi di negeri Belanda,” tambahnya.
Meski performa timnas mulai meroket, publik tidak boleh cepat berpuas diri. Lonjakan prestasi lewat jalur pemain "impor gizi" ini hanyalah solusi jangka pendek. Untuk bersaing di level dunia, kuncinya tetap satu: benahi gizi anak bangsa sejak usia dini.
Tanpa perbaikan gizi di akar rumput, mimpi melihat talenta lokal bersaing di panggung internasional akan tetap menjadi sekadar mimpi. Urusan bola ternyata memang bermula dari meja makan.
Heboh Tabel Gizi MBG Ramadan: Benarkah Satu Butir Dimsum Mengandung 28 Gram Protein?
Artikel Terkait
Strategi Bappelitbangda Parigi Moutong Jadikan Durian Montong Komoditas Unggulan
Langkah Abdul Sahid Perkuat Rantai Pasok Durian Parigi Moutong ke Luar Negeri
Dilema Rp280 Miliar Parigi Moutong, Pilih Gaji PPPK Aman atau Bangun Infrastruktur?
Target 2027, Parigi Moutong Fokus Babat Stunting dan Kemiskinan Lewat Posyandu Plus Plus
Perampok BRI Link Veteran Palu Tertangkap, Nekat Beraksi Demi Biaya Berobat Keluarga