Peserta Karnaval di FTT Parimo Berkreasi dengan Barang Bekas, Tampil Atraktif dengan Kostum Ramah Lingkungan
PARIMO - Karnaval fashion di Festival Teluk Tomini (FTT) di Desa Pelawa Baru, Kecamatan Parigi Tengah, Kabupaten Parigi Moutong, menjadi sorotan dengan peserta yang tampil atraktif menggunakan kostum terbuat dari barang-barang bekas. Kostum-kostum kreatif ini terdiri dari bahan daur ulang seperti koran bekas, botol plastik mineral, karung bekas, kemasan sabun, dan bahan lainnya.
Eny Susilowati, Sekretaris Dinas Pemuda Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) Kabupaten Parigi Moutong, menyatakan bahwa puluhan pelajar berhasil menciptakan kostum dengan berbagai motif biota laut, seperti ikan, cumi-cumi, kepiting, lobster, kerang, dan terumbu karang. Meskipun promosinya terkesan dadakan, penampilan peserta mendapatkan apresiasi tinggi dari pihak penyelenggara dan dewan juri.
"Secara tampilan, Alhamdulillah sukses dan telah mencapai apa yang kami inginkan," ujar Eny, menekankan antusiasme peserta yang luar biasa dalam mengikuti lomba fashion karnaval ini. Ia juga mengapresiasi kreativitas guru yang telah berhasil menciptakan kostum-kostum menarik dari bahan daur ulang.
Eny menyampaikan bahwa kegiatan ini tidak hanya sebagai ajang kreativitas, tetapi juga sebagai upaya untuk mengangkat potensi kreatifitas dengan memanfaatkan sampah yang ada di Pantai Kayubura. Dia berharap bahwa ke depannya, event serupa dapat terus menonjolkan konsep ramah lingkungan ini.
FTT tidak hanya menjadi panggung untuk kearifan lokal, tetapi juga dirangkaikan dengan perayaan hari bakti transmigrasi ke-73 tahun 2023 oleh Dinas Ketenagakerjaan dan Transmigrasi (Nakertrans). Panggung FTT menghadirkan tidak hanya kebudayaan lokal, tetapi juga kebudayaan masyarakat transmigrasi di Kabupaten Parigi Moutong.
Karnaval fashion ini dibuka dalam dua kategori, yaitu kategori pelajar dan kategori umum. Peserta dari jenjang SD, SMP, SMA, bahkan beberapa dari Paud turut serta dalam kategori pelajar. Sedangkan kategori umum diisi oleh pemuda dari Desa Pelawa, Kelurahan Masigi, dan beberapa komunitas lainnya.
Eny menambahkan, "Untuk kategori pelajar, kami melibatkan peserta dari berbagai jenjang pendidikan, termasuk Paud yang meskipun tidak terdaftar, tetapi tetap mendapatkan penghargaan khusus sebagai bentuk apresiasi kami." Dengan keberhasilan acara ini, pihak penyelenggara berencana untuk kembali menampilkan karya-karya berbasis barang bekas pada event serupa di tahun-tahun mendatang.