“Kalau ambulans pun tak bisa lewat, barangkali sudah saatnya kita bertanya: siapa sebenarnya yang sedang sakit?”
Sulawesitoday - Kamis siang itu, 15 Mei, langit Poto Tano cerah. Tapi jalan ke pelabuhan—satu-satunya jalur darat penghubung Sumbawa dan Lombok—macet total. Bukan karena truk terguling atau kapal mogok. Tapi karena massa menutup akses. Ratusan orang menuntut pembentukan Provinsi Pulau Sumbawa.
Blokade itu bukan sekadar simbol perlawanan. Ia mengunci arus logistik, menghambat perjalanan, bahkan memaksa pasien dalam ambulans ditandu sejauh ratusan meter.
Ya, ditandu. Oleh warga dan polisi. Sebab ambulans tak bisa lewat.
“Ini sudah di luar batas nalar,” kata seorang perawat di lokasi, menahan napas, menatap ponsel yang tak henti berbunyi.
Kemacetan mengular hingga dua kilometer. Pelabuhan lumpuh. Truk bahan pokok parkir di badan jalan. Bantuan kesehatan terjebak. Beberapa kendaraan medis memilih putar balik—karena tidak semua nyawa bisa menunggu giliran.
Aksi ini akan berlangsung lima hari, hingga 19 Mei. Suratnya sudah masuk ke Polres. Resminya damai. Tapi faktanya, Polda NTB harus turunkan ratusan personel untuk berjaga. Layanan medis disiapkan, kalau-kalau ada yang tumbang di tengah panas dan teriakan.
Di media sosial, aksi ini memantik polemik. Bukan soal pemekaran. Tapi soal metode.
“Bukan kami menolak PPS,” tulis akun @AlfriansyahPutra. “Tapi menutup akses vital? Itu bukan aspirasi, itu sabotase halus.”
Dari Lombok, suara keras mulai terdengar. Aktivis mengancam akan membalas dengan aksi serupa di Pelabuhan Kayangan.
“Kalau Sumbawa bisa ganggu akses vital, Lombok juga bisa,” ancam salah satu orator di Lapangan Gotong Royong, Sabtu (17/5).
@ArifArif menulis: “Ini sudah jadi kebiasaan. Jalan utama diblokir, rakyat dikorbankan.”
@FebriyanFN: “Hasil dari kritik tanpa otak. Bikin susah semua orang.”
Baca Juga: Imigrasi Jambi Tangkap WNA China Dagang di Pasar: Visa Kunjungan, Tapi Bawa Dagangan
Tuntutan pemekaran adalah hak. Tapi ketika perjuangan dipaksakan lewat kemacetan dan penderitaan orang lain, rasanya sulit membedakan mana idealisme, mana egoisme.