Sulawesitoday - Apa yang terjadi ketika rutinitas kerja berubah menjadi mimpi buruk dalam sekejap mata?** Jawabannya tergambar jelas dalam insiden tragis yang menimpa tiga pekerja PT Surya Mandiri Perdana di Jembatan Tarailu, Kecamatan Sampaga, Kabupaten Mamuju, Senin pagi (28/7/2025).
Pukul 10.45 WITA, suasana kerja yang semula berjalan normal berubah dramatis. Tiga pekerja yang tengah mengecat besi jembatan tiba-tiba jatuh bebas ke Sungai Tarailu di bawahnya. Bagai petir di siang bolong, kejadian itu mengejutkan rekan-rekan kerja mereka yang berada di lokasi.
Penyebabnya, kata IPDA Herman Basir, Kasi Humas Polresta Mamuju, adalah patahnya rangkaian penyangga bambu yang menjadi tumpuan para pekerja. "Ini murni kecelakaan kerja. Tidak ada unsur kelalaian lain," tegasnya kepada awak media.
Sebelumnya, para pekerja itu menggunakan konstruksi kayu dan bambu sebagai pijakan sementara untuk melakukan pengecatan. Namun, material penopang yang seharusnya menjadi andalan justru menjadi biang petaka ketika tiba-tiba ambruk.
-
Aksi Heroik di Tengah Kepanikan
Yang membuat hati terenyuh adalah respons spontan rekan-rekan kerja korban. Tanpa pikir panjang, dua orang pekerja lainnya langsung melompat ke sungai untuk menolong teman-teman mereka yang tenggelam. Sebuah aksi heroik yang menunjukkan solidaritas di tengah momen kritis.
Berkat upaya penyelamatan yang cepat, satu korban berhasil dievakuasi dalam kondisi selamat. Namun, nasib dua rekan lainnya masih menjadi tanda tanya besar. Tim gabungan yang terdiri dari aparat Polsek Sampaga, Basarnas, dan warga setempat terus melakukan pencarian intensif.
-
Pencarian Berlanjut dengan Harapan Tipis
Tak main-main, operasi pencarian melibatkan berbagai elemen masyarakat dan institusi. Warga sekitar yang mengetahui kondisi geografis Sungai Tarailu turut membantu tim profesional dalam upaya pencarian.
Hingga berita ini diturunkan, dua korban yang hilang belum juga ditemukan. Kondisi sungai yang memiliki arus cukup deras menjadi tantangan tersendiri bagi tim penyelamat. Seperti mencari jarum dalam tumpukan jerami, pencarian terus dilakukan dengan harapan mukjizat masih bisa terjadi.
Insiden ini sekali lagi mengingatkan pentingnya standar keselamatan kerja yang ketat, terutama untuk pekerjaan dengan risiko tinggi seperti pengecatan jembatan. Bagaikan peringatan keras dari alam, tragedi ini menunjukkan betapa rapuhnya nyawa manusia ketika berhadapan dengan kelengahan dalam prosedur keselamatan.
IPDA Herman Basir menegaskan pihaknya akan terus mengawasi perkembangan pencarian sambil menyelidiki lebih lanjut kronologi kejadian untuk memastikan tidak ada faktor lain yang berkontribusi terhadap tragedi ini.
Baca Juga: Gelombang Protes BEM SI di Patung Kuda, Indonesia Cemas 2025 dengan 11 Tuntutan Strategis