Proteksionisme? Bukan. Perlindungan dari praktik curang. "Saya nggak akan ngasih pasar kita ke negara lain tanpa perlawanan," tegasnya.
Pertemuan dengan pengusaha dijadwalkan. Dialog terbuka dibuka. Solusi bersama dicari. Industri tekstil punya potensi besar.
Target 5,5 Persen: Ambisi atau Realistis?
Lima strategi dijabarkan. Sidak ke bank dilakukan. Rokok ilegal diberantas. Coretax diperbaiki cepat. Bea Cukai diawasi ketat. Tekstil lokal dilindungi.
Pertanyaannya sederhana. Cukupkah lima strategi ini? Waktu akan menjawab. Kuartal IV tinggal hitungan pekan.
Skeptisisme wajar bermunculan. Dana Rp200 triliun memang besar. Tapi ekonomi global tak menentu. Daya beli masyarakat masih lemah. Kredit bank tak serta-merta tersalur.
Namun pendekatan Purbaya berbeda. Ia turun langsung. Tidak hanya duduk di meja. Debottlenecking jadi fokus. Hambatan dihilangkan satu per satu.
Yang menarik adalah komitmenya pada industri lokal. Proteksi dari praktik curang bukan proteksionisme buta. Perlawanan terhadap ekonomi bayangan yang merugikan negara.
Pertarungan melawan rokok ilegal, barang selundupan, dan praktik curang lainnya bukan sekadar soal penerimaan negara. Lebih dari itu. Ini soal keadilan bagi pelaku usaha yang taat aturan. Soal melindungi lapangan kerja rakyat Indonesia.
Apakah target 5,5 persen tercapai? Kita tunggu sajja. Yang pasti, Menkeu Purbaya bergerak cepat. Tak menunggu. Tak berdiam diri.
Di tengah badai ketidakpastian ekonomi global, Indonesia butuh pemimpin yang berani turun langsung. Yang tak hanya membuat kebijakan dari balik meja. Purbaya mencoba membuktikannya.
Pertumbuhan ekonomi bukan soal angka semata. Ia tentang kesejahteraan rakyat. Tentang industri yang tumbuh sehat. Tentang persaingan yang adil. Dan tentang negara yang hadir melindungi rakyatnya dari praktik curang yang merampas hak mereka.
Waktu akan membuktikan. Strategi lima langkah ini efektif atau tidak. Yang jelas, Purbaya sudah memulai. Sekarang giliran sistem dan institusi membuktikan. Bisakah mereka mengikuti kecepatan sang Menteri?
Baca Juga: 18 Gubernur Serbu Kemenkeu, Protes Dana Transfer Dipangkas Hampir Sepertiga