berita

Janji Menkeu Purbaya Pulihkan Ekonomi, Tapi 16 Persen Gen Z Masih Nganggur - Kesenjangan Makin Lebar

Minggu, 19 Oktober 2025 | 19:53 WIB
Menkeu Purbaya janji pulihkan ekonomi, tapi data BPS tunjukkan 16,16% Gen Z masih nganggur. Tertinggi di ASEAN, janji vs realitas?

Data Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) 2018-2024 menunjukkan tren menyedihkan. Sebanyak 80 persen lapangan kerja baru berasal dari sektor berbasis rumah tangga. Upah rendah. Tanpa jaminan sosial. Tanpa kepastian masa depan.

  • Apakah Indonesia Juara Pengangguran ASEAN?

Trading Economics pada Kamis, 14 Agustus 2025 mencatat tingkat pengangguran Indonesia di angka 4,76 persen untuk periode Maret 2025. Angka ini setara lebih dari 7 juta jiwa tanpa pekerjaan.

Meski turun tipis dari tahun sebelumnya, posisi Indonesia tetap tertinggi di kawasan ASEAN. Negara tetangga seperti Thailand, Vietnam, bahkan Filipina memiliki angka lebih rendah. Kita menjadi pemuncak klaseman yang tak patut dibanggakan.

Kontras ini semakin kentara. Pemerintah bicara pertumbuhan dan pemulihan. Sementara jutaan anak muda masih terjebak lingkaran setan pengangguran.

  • Stimulus untuk Siapa, Pemulihan untuk Siapa?

Purbaya menjanjikan berbagai stimulus untuk menggenjot perekonomian. Program ekspansi fiskal akan digulirkan. Insentif pajak untuk sektor tertentu akan diperluas. Infrastruktur terus dibangun.

Tapi pertanyaan mendasar tetap menggantung. Akankah stimulus itu sampai ke kantong anak muda? Akankah lapangan kerja berkualitas tercipta untuk generasi yang kini tengah frustrasi?

Data menunjukkan skeptisisme wajar. Ketika ekonomi tumbuh, keuntungan mengalir ke atas. Ke pengusaha besar. Ke pekerja formal berpengalaman. Ke mereka yang sudah memiliki modal dan koneksi.

Anak muda dengan ijazah baru? Mereka tetap menjadi penonton. Atau bahkan korban. Dari sistem yang menjanjikan tapi tak pernah menepati.

  • Janji Manis di Atas Realitas Pahit

Pernyataan Menkeu Purbaya tentang geliat ekonomi bukanlah bohong belaka. Indikator makro memang menunjukkan perbaikan. Investasi mengalir. Konsumsi domestik meningkat. Sektor tertentu berkembang pesat.

Namun ada kebenaran lain yang lebih dekat dengan tanah. Di sana, di jalanan, di warung kopi, ribuan anak muda masih bergelut mencari pekerjaan. CV dikirim tanpa balasan. Interview dijalani tanpa kelanjutan. Harapan meredup seiring waktu berjalan.

Kesenjangan ini bukan sekadar angka statistik. Ini tentang masa depan yang dirampas. Tentang mimpi yang tertunda. Tentang generasi yang seharusnya menjadi motor pembangunan malah terpaksa menjadi beban.

Proyeksi optimistis pemerintah versus realitas kegetiran di lapangan. Dua narasi yang berjalan paralel tanpa pernah bertemu. Seperti rel kereta yang menuju arah berbeda.

Baca Juga: Menkeu Purbaya Ancam Tangkap Mafia Selundupan, Backing Bintang Empat Pun Dilawan - Penangkapan Massal Segera Dimulai

Halaman:

Tags

Terkini