Sulawesitoday - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengeluarkan ancaman keras. Mafia barang selundupan akan dibersihkan. Tak peduli siapa backing-nya. "Di belakang saya, Presiden," tegasnya.
Pernyataan tegas itu meluncur dari bibir Purbaya saat menjadi narasumber talkshow bertajuk "Setahun Pemerintahan Prabowo-Gibran" di Metro TV. Dalam kesempatan itu, Menkeu mengungkap rencana besar-besaran. Penangkapan massal segera digelar. Sasarannya jelas: oknum di tubuh Direktorat Jenderal Pajak dan Direktorat Jenderal Bea Cukai.
"Kalau riil sektor dijaga, barang selundupan saya tutup," ujar Purbaya dengan nada tak main-main. "Yang suka main selundupan, saya tangkap. Sebentar lagi ada penangkapan besar-besaran."
Bukan gertakan kosong. Kata-kata itu keluar dari mulut seorang menteri yang punya akses langsung ke Presiden. Sebuah sinyal bahwa gelombang besar akan segera menghantam jejaring mafia yang selama ini beroperasi di balik tirai birokrasi perpajakan dan kepabeanan.
-
Industri Apa yang Jadi Sasaran Pembersihan?
Purbaya memaparkan target awal operasinya. Rokok jadi prioritas pertama. Disusul tekstil, kemudian produk baja. "Saya akan kejar satu-persatu," katanya dengan penuh keyakinan.
Pemilihan sektor-sektor itu bukan tanpa alasan. Ketiga industri tersebut dikenal sebagai lahan subur praktik penyelundupan. Rokok ilegal merugikan negara triliunan rupiah per tahun. Tekstil selundupan membunuh industri garmen lokal secara perlahan. Baja impor tanpa dokumen resmi merusak harga pasar domestik.
Dengan menutup celah selundupan, Purbaya berharap rasio pajak bisa meningkat signifikan. Industri dalam negeri pun akan mendapat ruang bernapas lebih lega. Kompetisi jadi lebih sehat. "Banyak barang selundupan ke sini," ungkap Purbaya. "Yang katanya, orang bea cukainya tidak benar kerjanya."
Kalimat terakhir itu terasa menusuk. Seperti jarum yang menembus tepat di jantung masalah. Selama ini, keberadaan mafia selundupan bukan rahasia umum lagi. Yang jadi pertanyaan: siapa dalangnya?
-
Siapa Dalang di Balik Praktik Selundupan Masif?
Di sinilah kisah jadi lebih menarik. Purbaya mengaku pernah memanggil sejumlah pegawai Ditjen Bea Cukai. Dari pertemuan itu, informasi mengejutkan terungkap. Ada oknum berpangkat tinggi yang ikut membacking masuk dan keluarnya barang selundupan.
"Dirjen Bea Cukai saya kan bintang tiga," kata Purbaya sembari memberi petunjuk. "Kalau bintang empat yang backing, kita lapor ke Presiden."
Frasa "bintang empat" jadi kunci. Dalam struktur TNI/Polri, pangkat bintang empat menunjuk pada jabatan sangat tinggi. Jenderal bintang empat bukan sembarang orang. Mereka punya pengaruh luar biasa besar. Jaringan kuat. Akses ke mana-mana.
Namun Purbaya tampak tidak gentar. Dengan terang-terangan ia menyebut kemungkinan adanya jenderal bintang empat di balik praktik gelap ini. Sebuah keberanian langka di lingkungan birokrasi yang kerap bermain aman. Atau mungkin, ini strategi psikologis untuk membuat pelaku merasa terkepung?
Yang jelas, pesan Purbaya sangat gamblang: tidak ada wilayah aman bagi mafia. Tidak ada jabatan yang terlalu tinggi untuk disentuh. Jika ada perlawanan, jalur terakhir sudah disiapkan—melapor langsung ke Istana.
-
Apa Dampaknya bagi Industri Dalam Negeri?
Penghentian aliran barang selundupan bukan cuma soal penegakan hukum. Ini tentang keadilan ekonomi. Tentang memberi kesempatan sama bagi pelaku usaha lokal.
Artikel Terkait
Apartemen Mewah Disulap Jadi Pabrik Sabu, Dua Residivis Raup Miliaran Rupiah
KPK Kembali Perpanjang Penahanan Mantan Wamenaker Immanuel Ebenezer, Penyidikan Kasus Pemerasan K3 Berlanjut
Pemerintah Gelontorkan Rp1,4 Triliun, Tambah 80 Ribu Kuota Magang Nasional
Santri Meninggal Dugaan Bullying, Legislator Parimo Desak Pengawasan Ponpes Diperketat
Mahfud MD Kritik KPK Soal Kereta WHOOSH: Jangan Tunggu Laporan, Langsung Usut!