Selama bertahun-tahun, pengusaha tekstil dalam negeri menjerit. Produk mereka kalah harga dari barang selundupan. Bukan karena kalah efisien. Tapi karena kompetitor mereka tak bayar bea masuk. Tak kena pajak. Biaya produksi jadi jauh lebih rendah.
Hal serupa terjadi di industri rokok dan baja. Pabrik-pabrik lokal berjuang keras memenuhi regulasi. Bayar pajak tepat waktu. Patuhi standar mutu. Sementara barang selundupan masuk dengan bebas, meraup untung besar tanpa kontribusi ke negara.
Jika operasi Purbaya berhasil, efeknya bisa berlapis. Pertama, penerimaan negara meningkat. Uang pajak yang selama ini bocor bisa ditambal. Kedua, industri lokal mendapat perlindungan. Mereka bisa bersaing di level playing field. Ketiga, lapangan kerja terjaga. Pabrik-pabrik tak perlu gulung tikar karena diserbu produk ilegal.
Namun pertanyaannya: apakah Purbaya sanggup mewujudkan janjinya? Mafia selundupan bukan pemain kecil. Mereka punya modal besar. Koneksi kuat. Pengalaman puluhan tahun menghindari hukum.
Artikel Terkait
Apartemen Mewah Disulap Jadi Pabrik Sabu, Dua Residivis Raup Miliaran Rupiah
KPK Kembali Perpanjang Penahanan Mantan Wamenaker Immanuel Ebenezer, Penyidikan Kasus Pemerasan K3 Berlanjut
Pemerintah Gelontorkan Rp1,4 Triliun, Tambah 80 Ribu Kuota Magang Nasional
Santri Meninggal Dugaan Bullying, Legislator Parimo Desak Pengawasan Ponpes Diperketat
Mahfud MD Kritik KPK Soal Kereta WHOOSH: Jangan Tunggu Laporan, Langsung Usut!