• Selasa, 21 Juli 2026

Janji Menkeu Purbaya Pulihkan Ekonomi, Tapi 16 Persen Gen Z Masih Nganggur - Kesenjangan Makin Lebar

.
Dwi Rahayu Putri, Sulawesi Today
- Minggu, 19 Oktober 2025 | 19:53 WIB
Menkeu Purbaya janji pulihkan ekonomi, tapi data BPS tunjukkan 16,16% Gen Z masih nganggur. Tertinggi di ASEAN, janji vs realitas?
Menkeu Purbaya janji pulihkan ekonomi, tapi data BPS tunjukkan 16,16% Gen Z masih nganggur. Tertinggi di ASEAN, janji vs realitas?

Sulawesitoday - Pertumbuhan ekonomi tengah bergeliat. Begitu klaim Menteri Keuangan RI, Purbaya Yudhi Sadewa. Sambungan listrik baru meningkat. Aktivitas masyarakat mulai bergairah. 

Namun di balik optimisme itu, bayangan kelam mengintai. Lebih dari 16 persen anak muda masih menganggur. Data Badan Pusat Statistik (BPS) Februari 2025 mencatat angka 16,16 persen untuk tingkat pengangguran terbuka usia muda.

Artinya sederhana namun menyakitkan. Dari setiap 100 pemuda berusia 15-24 tahun yang aktif mencari kerja, 16 orang masih tergantung di ruang tunggu. Mereka menanti panggilan yang tak kunjung datang.

  • Apakah Geliat Ekonomi Benar-Benar Nyata?

Purbaya menyampaikan pandangan optimistisnya kepada media di Jakarta, Sabtu, 18 Oktober 2025. Ekonomi mulai bergerak, katanya. Direktur Utama PLN melaporkan lonjakan permintaan sambungan listrik baru di berbagai wilayah.

"Ekonominya memang mulai bergeliat," ujar Menkeu pengganti Sri Mulyani itu. "Dirut PLN kemarin menyampaikan bahwa di banyak tempat orang sudah mulai minta sambungan listrik baru, itu artinya, aktivitas ekonomi mulai bergerak."

Menurut Purbaya, pemerintah tengah menyiapkan stimulus ekonomi. Target pertumbuhan 5,5 persen di kuartal IV 2025 sudah dicanangkan. Berbagai kebijakan ekspansif akan segera diluncurkan.

Tapi ada yang janggal. Ada celah yang terlalu lebar. Antara angka di kertas dan kenyataan di jalan.

Mengapa Kelas Menengah Lebih Dulu Merasakan Manfaat?

Purbaya mengakui satu fakta menarik. Manfaat pertumbuhan ekonomi tidak merata. Kelas menengah selalu lebih dulu menikmati. Mereka punya daya beli. Mereka punya akses pembiayaan. Mereka adaptif terhadap peluang baru.

"Biasanya, ketika ekonomi tumbuh makin cepat, yang menikmati paling banyak itu kelas menengah duluan. Yang bawah lebih lama," ungkap Purbaya dengan jujur.

Ketika perusahaan berekspansi, terutama sektor teknologi informasi, permintaan tenaga kerja naik. Upah pekerja ikut merangkak. Namun efek domino ini hanya sampai pada mereka yang sudah bekerja di sektor formal.

Anak muda yang baru lulus? Mereka masih berdiri di luar pagar. Menunggu pintu dibuka. Tapi pintu itu sepertinya terkunci rapat.

  • Berapa Lama Gen Z Harus Menunggu?

Anggota Aliansi Ekonom Indonesia, Vivi Alatas, pernah membedah masalah ini dalam jumpa pers di Jakarta, Selasa, 10 September 2025. Dia menyebut satu fakta yang mengejutkan sekaligus memprihatinkan.

"Pengangguran usia 15 sampai dengan 24 tahun, selama 2016 sampai dengan 2024 selalu di atas 15 persen," ujar Vivi. Hampir satu dekade tanpa perubahan signifikan. Angka itu bergerak stagnan seperti jarum jam yang macet.

Lebih parah lagi, lebih dari 25 persen anak muda Indonesia tidak produktif. Mereka tidak bekerja. Tidak sekolah. Tidak mengikuti pelatihan. Fenomena NEET (Not in Education, Employment, or Training) ini menggerogoti bonus demografi yang seharusnya menjadi keunggulan Indonesia.

Halaman:

Editor: Dwi Rahayu Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini