Tapi Menkeu Purbaya punya pandangan lebih realistis. Pengembangan ekonomi lokal tak bisa diabaikan begitu saja. Tanpa itu, Whoosh hanya jadi koridor transportasi biasa. Bukan katalis perubahan ekonomi seperti dijanjikan.
-
Apakah Whoosh Benar-benar Mengangkat Ekonomi Lokal?
Pertanyaan ini menggantung di benak publik. Jokowi bilang iya. Wisata Bandung meningkat. Nilai properti naik. UMKM tumbuh di titik-titik baru. Tapi bukti empirisnya? Belum ada yang konkrit.
Purbaya secara implisit menegasikan klaim tersebut. Kalau pengembangan regional belum terjadi, berarti dampak ekonomi yang dijanjikan juga belum nyata. Hanya harapan yang belum terimplementasi.
Proyek senilai Rp116 triliun ini kini berada di persimpangan jalan. Di satu sisi, jumlah penumpang terus bertambah. Itu positif. Di sisi lain, janji pembangunan ekonomi lokal masih sebatas wacana. Itu fakta yang tak bisa dipungkiri.
Danantara sebagai pengelola kini punya pekerjaan rumah ganda. Negosiasi utang dengan China. Dan lebih penting lagi, mewujudkan misi regional development yang mandek. Tanpa keduanya, Whoosh hanya jadi kereta cepat yang menelan uang rakyat tanpa memberi manfaat optimal.
Perjalanan Whoosh baru dimulai. Tahun pertama memang penuh tantangan. Tapi janji-janji besar harus ditagih. Titik-titik ekonomi yang dijanjikan harus terwujud. Kalau tidak, proyek prestisius ini hanya jadi monumen megah tanpa jiwa. Tanpa dampak nyata bagi rakyat yang seharusnya menjadi penerima manfaat utama.
Menkeu sudah bicara jujur. Sekarang giliran pemerintah membuktikan. Apakah Whoosh benar-benar bisa jadi lokomotif ekonomi? Atau selamanya cuma mimpi yang terlilit utang Rp116 triliun?
Baca Juga: Peringatan Megawati 2015 Lalu Soal Kereta Whoosh Kini Terbukti, KPK Turun Tangan