Pengajuan Marsinah datang dari serikat buruh. Bukan hanya dari Jawa Timur. Tapi dari seluruh Indonesia. Setiap May Day, nama Marsinah selalu disebut. Setiap peringatan Hari Buruh, tuntutan itu bergema: Marsinah harus diakui.
"Hampir serentak seluruh serikat buruh menyuarakan ini," kata Khofifah. "Terutama saat May Day. Mereka mendesak agar Marsinah diajukan sebagai pahlawan nasional."
Desakan itu sampai ke telinga Presiden Prabowo. Responnya? Positif. Langsung. "Ketika disampaikan ke Presiden Prabowo, beliau langsung merespons," ungkap Khofifah. Tapi respons saja tak cukup. Butuh data. Butuh bukti. Butuh dokumentasi lengkap.
Pemerintah Provinsi Jawa Timur kemudian membentuk posko khusus. Tim turun langsung ke Sidoarjo. Mengunjungi makam Marsinah. Mendatangi rumahnya. Mencari data primer. Wawancara keluarga. Mengumpulkan arsip. "Kami pastikan prosesnya lengkap dan sahih," terang Khofifah. "Ini hasil kerja bersama banyak pihak."
Proses itu memakan waktu. Tapi hasilnya? Marsinah kini resmi Pahlawan Nasional.
Lebih dari Sekadar Gelar: Makna di Balik Penganugerahan
Nama Marsinah kini sejajar dengan Soeharto, Gus Dur, dan Sarwo Edhie Wibowo. Ironi sekaligus keadilan. Ironi karena ia tewas di era yang dikuasai salah satu dari mereka. Keadilan karena akhirnya negara mengakui jasanya.
Penganugerahan ini bukan cuma soal gelar. Ini pengakuan terhadap perjuangan kelas pekerja. Pengakuan bahwa buruh punya tempat dalam sejarah bangsa. Bahwa keberanian tak selalu datang dari jabatan tinggi atau pangkat militer.
Marsinah membuktikan: heroisme bisa lahir dari lantai pabrik. Dari tangan-tangan kasar yang setiap hari memutar roda produksi. Dari suara-suara yang sering diabaikan. Ia membuktikan bahwa keadilan layak diperjuangkan, apa pun risikonya.
Tiga dekade lebih sejak tragedi Mei 1993, Indonesia berubah. Demokrasi tumbuh. Kebebasan berserikat dijamin undang-undang. Serikat buruh kini lebih kuat. Tapi perjuangan belum selesai. Upah masih jadi perdebatan. Kesejahteraan masih jadi tuntutan. PHK masif masih jadi momok.
Di tengah itu semua, gelar Pahlawan Nasional untuk Marsinah jadi pengingat. Pengingat bahwa perjuangan punya harga. Bahwa keberanian tak pernah sia-sia. Bahwa sejarah, betapapun lambatnya, pada akhirnya mengakui mereka yang berani melawan ketidakadilan.
Marsinah tak akan pernah tahu kehormatan ini. Ia pergi terlalu cepat. Terlalu tragis. Tapi namanya kini terukir dalam daftar pahlawan bangsa. Dan di sana, ia akan tetap hidup—sebagai inspirasi bagi jutaan pekerja Indonesia yang terus memperjuangkan hak mereka.
Mungkin itulah cara negara meminta maaf. Cara Indonesia mengatakan: kami melihat perjuanganmu. Kami mengakui pengorbananmu. Dan kami tak akan pernah melupakan namamu.
Baca Juga: Perjuangan 48 Jam Melawan Arus: Dua Mahasiswa Polindra Tewas dalam Latihan Rafting di Cimanuk