Intensitas komunikasi itu memuncak kemarin sore. Dalam rapat tertutup, Prabowo memberikan instruksi tegas: datang ke Aceh hari ini. Pastikan listrik menyala malam ini.
"Bapak memerintahkan hari ini datang ke Aceh," ungkap Bahlil. "Semuanya harus sudah nyala malam nanti."
Tekanan politik bertemu dengan tekanan teknis. Tim lapangan bekerja di bawah deadline yang ketat. Bahlil sendiri turun langsung mengawasi, memastikan setiap tahap berjalan sesuai rencana. Ia berulang kali menekankan pentingnya cuaca—faktor di luar kontrol manusia yang bisa menggagalkan semua upaya.
"Zikir ya, mudah-mudahan cuaca bagus," ujarnya dengan nada setengah serius, setengah bercanda. "Sekarang tim kami masih di lapangan."
Kekhawatiran lain: sutet (saluran udara tegangan ekstra tinggi) yang baru dibangun jangan sampai terendam lagi. Banjir yang surut bisa kembali naik jika hujan deras mengguyur. Bahlil berharap kondisi cuaca terus mendukung hingga sistem kelistrikan benar-benar stabil.
Kunjungan Presiden: Jembatan Bailey dan Konektivitas Aceh
Kunjungan Presiden Prabowo ke Aceh bukan sekadar seremonial. Ia meninjau langsung pembangunan Jembatan Bailey Teupin Mane di Kabupaten Bireuen—infrastruktur vital yang memulihkan konektivitas darat antara Bireuen dan Takengon. Jembatan sepanjang 30 meter itu menjadi simbol pemulihan akses yang terputus akibat banjir bandang.
"Ini kita lihat salah satu jembatan Bailey yang dikerjakan," kata Prabowo di lokasi. Tangannya menunjuk ke struktur besi yang sedang dipasang. "Mereka kerja terus, diharapkan satu minggu sudah bisa buka."
Jembatan Bailey—struktur portabel yang bisa dipasang cepat dalam kondisi darurat—menjadi solusi sementara sebelum jembatan permanen dibangun. Dari sini, akses ke tiga jembatan lainnya yang menuju Bener Meriah dan Takengon bisa dibuka bertahap. Konektivitas darat yang pulih berarti logistik pemulihan bisa dipercepat.
Prabowo menekankan urgensi pemulihan infrastruktur secara menyeluruh. Bukan hanya listrik, tapi juga jalan, jembatan, dan fasilitas publik lainnya. Bencana banjir dan longsor di Sumatera—khususnya Aceh—menjadi ujian besar bagi pemerintahan baru dalam menangani krisis kemanusiaan.
Baca Juga: Seperti Tsunami Kedua, Prabowo Tinjau Langsung Banjir Aceh yang Terisolasi