• Selasa, 21 Juli 2026

Bencana Banjir Sumatera Tewaskan 916 Orang, 274 Hilang - Aceh Paling Parah dengan 795 Ribu Pengungsi

.
Muhammad Aqil Azizi, Sulawesi Today
- Minggu, 7 Desember 2025 | 17:17 WIB
Banjir dan longsor di 3 provinsi Sumatera tewaskan 916 jiwa. 845 ribu warga mengungsi. BNPB ungkap data terkini kerusakan masif.
Banjir dan longsor di 3 provinsi Sumatera tewaskan 916 jiwa. 845 ribu warga mengungsi. BNPB ungkap data terkini kerusakan masif.

Sulawesitoday - Angka itu bukan sekadar statistik. Sembilan ratus enam belas jiwa melayang. Banjir bandang dan tanah longsor menerjang tiga provinsi di Sumatera dengan daya rusak luar biasa. Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat menjadi saksi bisu kehancuran yang datang tanpa ampun sejak akhir November lalu.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana mencatat, hingga Minggu 7 Desember 2025, jumlah korban tewas mencapai 916 orang. Angka yang terus bertambah seiring pencarian masih berlangsung. Sebanyak 274 orang lainnya masih dinyatakan hilang. Keluarga mereka menunggu. Dengan harap-harap cemas. Arus banjir menyeret segalanya tanpa pandang bulu—rumah, harta, hingga nyawa manusia.

Sapuan air dan lumpur menghantam 52 kota dan kabupaten. Kerusakan meluas. Total. Tak ada wilayah yang benar-benar aman ketika alam murka dengan sekejam ini.

Berapa Banyak Warga yang Kehilangan Tempat Tinggal?

Lebih dari 845 ribu jiwa kini mengungsi. Angka itu bukan main-main. Mereka kehilangan tempat berlindung, tidur di posko darurat yang serba terbatas. Data BNPB merinci, Aceh menjadi provinsi dengan pengungsi terbanyak—795.700 jiwa tersebar di berbagai titik evakuasi. Sumatera Utara menyusul dengan 34.900 jiwa. Sementara Sumatera Barat mencatat 14.700 jiwa terpaksa mengungsi.

Bayangkan. Hampir satu juta manusia kehilangan segalanya dalam sekejap. Rumah rata dengan tanah, harta benda hanyut, masa depan terasa kabur. Mereka kini hidup bersandar pada bantuan pemerintah dan solidaritas sesama. Pertanyaannya, apakah bantuan yang ada cukup untuk menutup luka sebesar ini?

Infrastruktur publik ikut lumpuh. BNPB mencatat lebih dari 105 ribu unit rumah rusak parah. Angka itu belum termasuk fasilitas umum yang berjumlah 1.300 unit, serta 405 jembatan yang ambrol atau tak bisa dilewati. Akses jalan terputus di banyak titik, mempersulit distribusi bantuan ke daerah terisolir.

Fasilitas kesehatan juga tak luput dari kerusakan. Sebanyak 199 unit puskesmas dan rumah sakit rusak. Fasilitas pendidikan? Ada 697 sekolah tak bisa digunakan. Rumah ibadah yang menjadi tempat berlindung bagi banyak orang juga rusak—420 unit. Gedung perkantoran pun mencapai 234 unit yang tak berfungsi.

"Di tengah situasi sulit ini, mari saling menguatkan dan memastikan bantuan menjangkau mereka yang paling membutuhkan," demikian pernyataan BNPB pada Minggu kemarin. Kalimat itu terdengar penuh harap. Namun, di lapangan, realitas lebih keras.

Apakah Fasilitas Kesehatan Sudah Pulih?

Kabar sedikit menggembirakan datang dari sektor kesehatan. Meski banyak rusak, sebagian fasilitas medis mulai beroperasi kembali. Di Aceh, 3 rumah sakit dan 55 puskesmas sudah bisa melayani masyarakat. Sumatera Utara menyusul dengan 15 rumah sakit dan 25 puskesmas yang aktif. Sementara Sumatera Barat, seluruh rumah sakit dan puskesmas di provinsi itu sudah beraktifitas normal.

Pemulihan dilakukan secara bertahap. BNPB bersama PLN, dengan dukungan TNI dan Polri, mengirim genset berkapasitas 250 kWh ke RSUD Takengon, Aceh Tengah. Listrik menyala kembali, mesin medis berfungsi, harapan hidup pasien meningkat. Pemulihan serupa juga dilakukan di RSUD Muda Sedia, Aceh Tamiang, agar pelayanan segera normal kembali.

"Pascabanjir pasti banyak penyakit yang akan menyerang masyarakat kita," ujar Bupati Aceh Tamiang, Armia Fahmi, saat ditemui awak media di RSUD Aceh Tamiang pada Sabtu 6 Desember 2025. Ia tampak khawatir. Tapi juga optimis. "Sehingga dengan adanya dibukanya fasilitas ini, bisa untuk sebagai sarana pemberian kesehatan kepada masyarakat untuk bisa kita akses di sini," imbuhnya sambil ikut membersihkan rumah sakit bersama sejumlah pihak terkait.

Wabah penyakit memang jadi ancaman serius pasca-bencana. Air banjir yang tergenang menjadi sarang bakteri. Diare, leptospirosis, hingga infeksi saluran pernapasan mengintai. Makanya, pemulihan fasilitas kesehatan jadi prioritas utama.

Halaman:

Editor: Muhammad Aqil Azizi

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini