Sulawesitoday - Bencana banjir bandang Aceh meninggalkan duka mendalam. Namun yang lebih menyakitkan, penanganan darurat di lapangan justru menuai kegagalan fatal. Gubernur Aceh Muzakir Manaf, yang akrab disapa Mualem, kini membuka fakta mengejutkan.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana gagal total. Itu terjadi di hari pertama evakuasi. Lokasi kejadian, Kabupaten Aceh Tamiang.
Mualem tak main-main dalam kritikannya. Melalui unggahan video di akun Instagram pribadinya @muzakirmanaf1964, Minggu 7 Desember 2025, mantan Panglima GAM ini meluapkan kekesalan. "Saya kecewa BNPB," tegas Mualem. Kalimatnya pendek. Nada bicaranya dingin. Tapi maknanya dalam.
Apa yang sebenarnya terjadi di Aceh Tamiang hingga membuat seorang gubernur sekaliber Mualem harus angkat bicara? Masalahnya bukan soal kuantitas bantuan. Ini tentang kegagalan eksekusi di lapangan yang memakan korban jiwa.
Boat Bocor, Evakuasi Mandek: Apa yang Sebenarnya Terjadi?
Saat warga terjebak banjir bandang, BNPB datang dengan boat. Peralatan vital untuk evakuasi. Tapi inilah fakta mengejutkannya: boat mereka bocor. Tidak bisa dipakai sama sekali.
"Boat mereka bocor," ungkap Mualem. Nada bicaranya skeptis sekaligus geram. Peralatan yang seharusnya menyelamatkan nyawa malah mangkrak. Ribuan warga menunggu evakuasi. Waktu terus berjalan. Ketinggian air meningkat pesat.
Dampaknya? Korban berjatuhan di jalur nasional Langsa-Aceh Tamiang. Banyak warga ditemukan meninggal dunia. Mereka sebenarnya bisa diselamatkan. Kalau saja peralatan berfungsi. Kalau saja respons lebih cepat.
Yang lebih memilukan, pembersihan jalur evakuasi juga tertunda. Akses terblokir material longsor. Ambulans tidak bisa masuk. Logistik terhambat. Korban kehilangan harapan.
Mualem kemudian melontarkan kalimat yang menampar keras: "Korban minta tolong dibantu, dia malah lari." Kata-kata ini bukan sekadar metafora. Ini potret nyata kegagalan tim evakuasi dalam menghadapi bencana alam yang melanda 18 kabupaten di Provinsi Aceh sejak akhir November 2025 lalu.
Apakah BNPB Sudah Memperbaiki Situasi?
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, memberikan klarifikasi. Menurut laporan resmi pada Sabtu 6 Desember 2025, akses ke Aceh Tamiang kini terbuka. "Aceh Tamiang sudah bisa ditembus dari Langkat dan Sumatera Utara," kata Muhari.
BNPB mengklaim perbaikan dikebut maksimal. Logistik mulai mengalir masuk wilayah terdampak. Bahan Bakar Minyak tersuplai. PLN memasok genset darurat. RSUD yang sempat lumpuh kini mulai dibersihkan.
Tapi apakah klaim ini cukup menjawab kekecewaan Mualem? Gubernur Aceh itu tidak mempersoalkan kondisi terkini. Yang ia persoalkan adalah kegagalan di hari pertama. Saat golden time untuk menyelamatkan korban. Saat setiap menit sangat berharga.
Artikel Terkait
WALHI Bongkar Fakta Miris, Perusahaan Tambang Abaikan Reklamasi - Sawit Malah Menggurita di Lahan Bekas Galian
Mekanisme At Cost Jadi Senjata BGN Cegah PHK Relawan Dapur di Tengah Penyusutan Penerima Manfaat MBG
Prabowo Jadikan Sawit Senjata Energi di Tengah Ancaman Perang Global
Bencana Banjir Sumatera Tewaskan 916 Orang, 274 Hilang - Aceh Paling Parah dengan 795 Ribu Pengungsi
Seperti Tsunami Kedua, Prabowo Tinjau Langsung Banjir Aceh yang Terisolasi