Sulawesitoday - Setelah hampir sepekan terisolasi akibat jembatan utama yang menghubungkan Beutong Ateuh dengan Kabupaten Nagan Raya terputus diterjang banjir, warga setempat akhirnya mengambil jalan yang tak biasa. Tanpa menunggu bantuan tiba, mereka bergotong royong membangun jembatan darurat dari kayu untuk menyeberangi sungai berarus deras yang membelah wilayah itu.
Upaya tersebut menjadi satu-satunya pilihan agar aktivitas warga kembali berjalan, meski dengan risiko yang tidak kecil. Sungai yang sebelumnya dilalui jembatan permanen masih menunjukkan arus kuat, sementara struktur darurat yang dibangun hanya bertumpu pada susunan kayu dan pengaman seadanya.
Momen perjuangan warga itu terekam dalam sebuah video yang diunggah akun TikTok @TOKO DAMRY pada Minggu, 14 Desember 2025. Dalam rekaman tersebut, terlihat sejumlah warga berjalan perlahan di atas jembatan kayu, sebagian lainnya bersiaga di sisi sungai untuk membantu bila terjadi hal tak diinginkan.
Salah seorang warga yang merekam peristiwa itu menyebut jembatan tersebut sebagai akses sementara yang terpaksa digunakan demi keluar dari isolasi. “Ini jembatan Beutong Ateuh,” ujarnya dalam video, sembari menyorot derasnya aliran sungai di bawah pijakan kayu.
Ia tak menampik bahwa keberanian menyeberang di kondisi tersebut menyisakan rasa waswas. “Ngeri-ngeri sedap, para pejuang bagaimana pun caranya harus dilewati,” katanya. Ungkapan itu menggambarkan dilema warga yang dihadapkan pada pilihan bertahan dalam keterisolasian atau mengambil risiko demi mobilitas.
Ketegangan perlahan berubah menjadi rasa lega ketika kendaraan roda dua berhasil diseberangkan. “Alhamdulillah motor kita sudah lewat,” ucap pria itu, diiringi sorak kecil warga lain yang menunggu giliran.
Aksi gotong royong tersebut menegaskan daya tahan sosial masyarakat Beutong Ateuh di tengah keterbatasan. Jembatan darurat dari kayu itu bukan sekadar lintasan sementara, melainkan simbol bagaimana warga saling menguatkan ketika infrastruktur lumpuh dan bantuan belum sepenuhnya menjangkau.
Di akhir video, seruan penyemangat kembali dilontarkan. “Semangat kawan-kawan,” katanya. Sebuah kalimat sederhana yang menutup potret perjuangan warga desa menghadapi banjir dengan keberanian dan kebersamaan, meski harus melangkah di atas risiko.
Baca Juga: Sambil Panggul Logistik, Warga Korban Banjir Aceh Justru Kuatkan Hati Mualem