"Pelayanan kesehatan itu selain makanan dan air bersih, penting sekali untuk cepat dilayani," jelasnya.
Air bersih jadi prioritas. Sebab, air tercemar jadi sumber penyakit pencernaan. Diare, kolera, tifus—semua berawal dari air kotor.
Makanan bergizi juga krusial. Daya tahan tubuh pengungsi sudah lemah. Tanpa asupan nutrisi memadai, mereka mudah jatuh sakit.
Obat-obatan harus tersedia. Bukan hanya obat umum. Tapi juga antibiotik, antidiare, hingga vaksin untuk cegah campak.
Kapan Waktu Ideal Membuka Posko Kesehatan?
Timing adalah segalanya. Dokter Daeng memberi patokan jelas: setelah fase pencarian dan penyelamatan (search and rescue/SAR).
"Pertama itu biasanya kan pencarian dan penyelamatan, di pencarian dan penyelamatan itu sekaligus pertolongan pertama dan evakuasi. Itu, biasanya dikumpulkan di tempat tertentu," paparnya.
Fase SAR biasanya berlangsung 3-7 hari. Begitu warga dikumpulkan di posko, pelayanan kesehatan harus langsung aktif.
"Pelayanannya sudah harus dimulai untuk mencegah penyakit-penyakit itu tidak menyebar, tidak tambah buruk," tuturnya.
Penundaan satu hari saja bisa fatal. Penyakit yang awalnya ringan bisa jadi parah. Yang tadinya hanya satu kasus bisa menjalar ke puluhan orang.
Inilah yang disebut golden period dalam penanganan pascabencana. Lewat dari itu, konsekwensinya mahal.
Apa Risiko Jika Penanganan Kesehatan Terlambat?
Dokter Daeng melukiskan skenario terburuk dengan gamblang. Keterlambatan sama dengan bencana di atas bencana.
"Kalau terlambat penanganan, kasihan udah menderita, tidak punya apa-apa, kemudian sakit, tidak ada yang menangani, sakitnya akan tambah parah, menyebar ke camp. Risiko penyebaran di camp kalau tidak ditangani," terangnya.
Bayangkan: seorang anak batuk pilek. Tidak ditangani. Tiga hari kemudian, ISPA berat. Seminggu kemudian, 20 anak lain ikut batuk.