Sulawesitoday - Semua sudah tahu: kemiskinan itu seperti lingkaran setan. Memutusnya sulit bukan main. Tapi Presiden Prabowo Subianto punya cara: lewat pendidikan.
Namanya keren: Sekolah Rakyat.
Selasa malam lalu, 20 Januari 2026, Sekjen Kementerian Sosial, Robben Rico, blak-blakan soal ini. Beliau bicara di depan Jaringan Pemred Promedia (JPP) lewat forum daring. Temanya serius: "Mengenal Sekolah Rakyat Lebih Dekat".
Bagi Rico, sekolah ini bukan sekadar tempat belajar baca-tulis. Ini adalah miniatur pengentasan kemiskinan.
Rico punya istilah yang menarik: penyapu ranjau.
Maksudnya begini: anak-anak dari keluarga dhuafa harus dibersihkan jalannya agar bisa setara dengan anak-anak dari keluarga mampu. Caranya? Bukan dengan sekolah biasa yang masuk pagi pulang siang.
Konsepnya adalah asrama. Anak-anak akan tinggal di sana 24 jam penuh.
Bayangkan pembagian waktunya: 8 jam untuk pendidikan formal seperti sekolah reguler. Sisa waktunya? Itulah kuncinya. Sekolah akan fokus pada pembentukan karakter.
Rico ingin anak-anak ini tidak hanya pintar, tapi punya mental baja. Mereka dipersiapkan untuk menjadi agen perubahan.
Targetnya jelas: memuliakan keluarga miskin. Begitu lulus, anak-anak inilah yang akan pulang ke rumahnya untuk memutus rantai kemiskinan keluarganya sendiri.
Kemensos rupanya sudah membuat perencanaan yang utuh. Mereka ingin program ini benar-benar berdampak nyata, bukan sekadar proyek di atas kertas.
Memang, mengubah karakter tidak bisa instan. Itulah gunanya asrama. Dengan pendampingan penuh, karakter anak bisa dibentuk setiap saat.
Kalau program ini jalan, "ranjau-ranjau" kemiskinan itu pelan-pelan akan hilang. Dan anak-anak dhuafa itu bisa lari kencang, mengejar ketertinggalan mereka.
Kita tunggu saja bagaimana miniatur ini bekerja di lapangan. Karena memuliakan orang miskin memang harus dengan cara yang luar biasa.