Sulawesitoday - Minggu dini hari itu, 1 Maret 2026, langit Dubai tidak lagi hanya dihiasi lampu-lampu megah pencakar langit. Ada kobaran api. Ada suara ledakan yang memecah kesunyian pusat bisnis global tersebut.
**Bandara Internasional Dubai (DXB)**, yang selama ini menjadi kebanggaan sebagai salah satu hub penerbangan tersibuk di dunia, harus merasakan hantaman rudal. Area terminal mengalami kerusakan minor. Empat orang staf bandara dilaporkan terluka. Operasional bandara pun sempat tertahan.
Bukan hanya bandara. Ikon kemewahan dunia, **Hotel Burj Al Arab**, juga terdampak. Drone-drone yang dikirim dari Iran memang berhasil dicegat di udara, namun puing-puingnya jatuh tepat di fasad bangunan yang berbentuk layar kapal itu. Kebakaran kecil sempat terjadi. Asap hitam terlihat membubung dari salah satu sudut hotel bintang tujuh tersebut.
Di Abu Dhabi, situasinya lebih tragis. Jatuhnya serpihan proyektil di area padat penduduk mengakibatkan satu warga negara asing tewas. Secara total, Iran meluncurkan sekitar 137 rudal balistik dan 209 drone ke wilayah Uni Emirat Arab (UEA). Meski sistem pertahanan udara UEA bekerja ekstra keras mencegat mayoritas serangan, "hujan puing" di wilayah perkotaan tetap tidak terhindarkan.
Kenapa Dubai menjadi target? Jawabannya mungkin bukan soal militer semata, melainkan soal **reputasi**.
Selama ini, Dubai dan Abu Dhabi membangun identitas sebagai tempat paling aman dan stabil untuk menyimpan kekayaan global. Dubai adalah tempat plesiran para miliarder. Namun, dengan serangan ini, citra "rumah kaca" yang aman itu mulai retak. Iran seolah ingin membuktikan bahwa tidak ada tempat yang benar-benar aman di kawasan tersebut selama konflik masih berkobar.
Dampaknya langsung terasa di dompet. Pasar saham di negara-negara Teluk langsung anjlok. Bursa Kuwait dan UEA bahkan harus mengambil langkah langka dengan menghentikan perdagangan sementara. Maskapai raksasa seperti Emirates dan Etihad terpaksa menunda ribuan penerbangan, menyebabkan gangguan logistik dan pariwisata yang luas.
Di tengah situasi panas ini, Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Abu Dhabi bergerak cepat. Status **Siaga III** resmi ditetapkan sejak 28 Februari 2026. Seluruh Warga Negara Indonesia (WNI) di UEA diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan, mengurangi pergerakan di luar rumah, dan segera melakukan lapor diri secara daring.
Eskalasi ini sebenarnya adalah buntut dari serangan udara masif yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel ke Iran sebelumnya. Iran membalas dengan menghujani pangkalan militer AS di kawasan, termasuk yang berada di tanah UEA.
Kini, wilayah Teluk sedang berada dalam status waspada tinggi. Pertanyaannya, seberapa cepat Dubai bisa memulihkan citranya sebagai pelabuhan aman bagi modal dunia? Ataukah ini awal dari perubahan peta ekonomi di Timur Tengah?. Yang pasti, situasi saat ini sedang sangat rapuh.
Mengapa AS dan Israel Serang Iran 28 Februari 2026? Ini Alasan Utamanya