Kondisi fisik para nelayan yang terjebak cukup memprihatinkan. Mereka lelah, lapar, dan sebagian besar mulai menunjukkan tanda-tanda kekurangan gizi setelah berhari-hari bertahan hidup dengan persediaan yang sangat minim. Namun, berkat intervensi cepat dari tim SAR, logistik makanan yang dikirimkan langsung dari helikopter membantu mereka bertahan hingga proses evakuasi dilakukan secara penuh.
"Setelah beberapa hari terjebak tanpa cukup makanan, mereka mulai kelelahan. Itu sebabnya kami segera kirim logistik sebelum mengevakuasi mereka satu per satu," kata Desiana. Tindakan cepat ini menjadi penyelamat nyawa mereka, yang kemungkinan besar akan semakin kritis tanpa asupan makanan yang memadai.
Sebanyak 71 nelayan berhasil diselamatkan, meski 21 di antaranya berhasil melakukan evakuasi mandiri menggunakan kapal mereka sendiri. Mereka kemudian bersandar di dermaga eks tambang sebelum tim SAR tiba untuk membantu nelayan lainnya. Menurut Ramli Prasetyo, koordinasi antara Basarnas, TNI AU, dan pihak desa sangat membantu kelancaran operasi penyelamatan ini. "Selain heli Basarnas, ada juga dua helikopter milik TNI AU yang ikut membantu evakuasi, yaitu jenis Super Puma dan Caracal," jelasnya.
Menjaga Kesehatan dan Pemulihan Setelah Evakuasi
Meski seluruh nelayan yang dievakuasi dinyatakan selamat, proses pemulihan mereka belum sepenuhnya selesai. Setelah berhasil dievakuasi, semua nelayan langsung dibawa ke Satuan Radar 216 Cibalimbing di Kecamatan Surade untuk pemeriksaan kesehatan lebih lanjut. Proses ini dilakukan untuk memastikan tidak ada dampak kesehatan jangka panjang dari situasi berbahaya yang mereka hadapi.
"Dua orang nelayan yang tadi dievakuasi kondisinya lelah, namun mereka dalam keadaan sehat," kata Ramli. Tim medis dari TNI AU yang berjaga di Satradar 216 telah siap memberikan perawatan jika ada nelayan yang membutuhkan penanganan lebih lanjut. Ramli menambahkan bahwa jika ditemukan adanya kondisi medis yang memerlukan tindakan lebih serius, para nelayan tersebut akan segera dirujuk ke rumah sakit terdekat.
Operasi penyelamatan ini menunjukkan pentingnya kecepatan dan kerjasama berbagai pihak dalam menangani situasi darurat di wilayah maritim seperti Sukabumi. Dari BMKG yang memberikan informasi vital tentang kondisi cuaca, hingga Basarnas dan TNI AU yang berkolaborasi dalam evakuasi udara, upaya terpadu ini berhasil menyelamatkan nyawa para nelayan yang terancam.
Akhir Drama Evakuasi di Tengah Lautan
Pada akhirnya, 71 nelayan yang terjebak di ujung dermaga besi berhasil diselamatkan. Meski kelelahan dan kelaparan, mereka dapat menghela nafas lega setelah berhasil dievakuasi ke tempat aman. Ini bukan hanya cerita tentang bagaimana evakuasi darurat dilakukan, tetapi juga tentang keberanian, koordinasi, dan kemampuan adaptasi tim SAR menghadapi situasi sulit.
Operasi ini menjadi pengingat akan pentingnya peran SAR dalam menjaga keselamatan nelayan di laut lepas, terutama di wilayah yang sering dihadang oleh kondisi cuaca ekstrem. Basarnas, bersama dengan dukungan dari TNI AU, telah berhasil melaksanakan misi yang, tanpa keraguan, telah menyelamatkan nyawa banyak orang.