Sulawesitoday - Para anggota geng motor Warbis di Makassar, Sulawesi Selatan, bak ksatria zaman kiwari. Bukan adu gagah di medan perang, melainkan unjuk kekuatan lewat tawuran jalanan.
Aksi mereka, rupanya, bukan sekadar kenakalan biasa, melainkan arena "adu otot" antargeng yang direkam langsung di media sosial, jadi tontonan bagi siapa saja yang kebetulan lewat lini masa.
Kepala Polrestabes Makassar, Kombes Arya Perdana, membuka tabir di balik hiruk-pikuk ini.
Kata Arya, motif di balik gelombang tawuran itu sederhana saja, tapi berdampak luar biasa: "Adu kekuatan antar geng motor. Kan geng motor ada beberapa, jadi mereka saling menunjukkan kekuatan di beberapa wilayah." Sebuah kontes tak resmi, di mana jalanan jadi panggung, dan yang paling "gahar" diakui sebagai jawara.
Ironisnya, mahkota jawara itu tak lebih dari cacian publik dan jeruji besi.
Dari penggerebekan yang dilakukan aparat, 24 anggota geng motor Warbis berhasil diciduk. Kebanyakan masih seumur jagung, usia mereka rentang belasan tahun.
Namun, jangan salah, di antara kerumunan remaja itu, ada satu nama yang jadi sorotan: MDM alias Sule (18). Tangan dinginnya ternyata menyimpan dua bilah samurai, salah satunya bahkan hasil "kreasi" sendiri.
Ini bukan lagi sekadar main-main, tapi sebuah persiapan tempur yang terorganisir.
Tak hanya samurai, dalam mobil yang mereka gunakan, polisi juga menemukan segudang panah busur. Peralatan "perang" yang disiapkan matang untuk setiap bentrokan.
Fenomena ini diperparah dengan keberadaan media sosial. Jika dulu tantangan disampaikan lewat bisik-bisik, kini medan digital Instagram Live jadi arena.
Para "jagoan" jalanan ini secara terang-terangan menantang lawan, janjian di titik temu, lalu beradu jotos di hadapan penonton virtual. Sebuah pertunjukan brutal yang terekam jelas, sebelum akhirnya berujung di kantor polisi.
Baca Juga: Kekerasan Berbalut Miras di Palu Barat, Dua Pelaku Dibui, Satu Buron
Lebih mencengangkan lagi, dalam barisan Warbis yang tertangkap, ada juga seorang wanita yang ikut serta. Ia tak gentar ikut dalam riuh rendahnya aksi tawuran, menyertai rekan-rekannya yang mayoritas masih di bawah umur.
Sebuah potret miris dari anak muda yang kehilangan arah, mencari identitas dalam kelompok, dan menemukan "kekuatan" dalam kekerasan. Sementara kota Makassar mendamba ketenangan, para "gladiator" jalanan ini masih saja sibuk dengan panggung "adu kekuatan" mereka.
Artikel Terkait
Empat Desa di Moutong Dikepung Air: Sekolah Kebanjiran, Pasar Mati Langkah
Jelang Armuzna, Manasik Intensif Kloter 11 Parigi Moutong Bersiap Menuju Puncak Haji
Jangan Sepelekan STNK Mati: Denda dan Kurungan Mengintai Pengendara
Bukan Sekadar Ibadah, Perang Saudi Melawan Mafia Haji Ilegal dan Penyelundup
Kekerasan Berbalut Miras di Palu Barat, Dua Pelaku Dibui, Satu Buron