• Selasa, 21 Juli 2026

Empat Desa di Moutong Dikepung Air: Sekolah Kebanjiran, Pasar Mati Langkah

.
Dwi Rahayu Putri, Sulawesi Today
- Minggu, 1 Juni 2025 | 21:01 WIB
Banjir subuh-subuh rendam empat desa di Moutong. Air belum surut, sekolah dan pasar ikut lumpuh. 1.025 warga terdampak, tanpa korban jiwa.
Banjir subuh-subuh rendam empat desa di Moutong. Air belum surut, sekolah dan pasar ikut lumpuh. 1.025 warga terdampak, tanpa korban jiwa.

Sulawesitoday - Air datang tak kenal waktu. Pagi belum benar-benar terang ketika warga Kecamatan Moutong, Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, dikejutkan oleh suara gemuruh yang bukan dari ayam tetangga, tapi dari air sungai yang naik seperti tak sabar ingin masuk pekarangan.

Minggu, 1 Juni 2025, pukul enam pagi, Sungai Moutong resmi meluap. Empat desa menjadi sasaran: Moutong Tengah, Moutong Utara, Moutong Timur, dan Moutong Barat. Tak ada selebaran peringatan dini. Yang ada hanya jejak lumpur, genangan setinggi dada, dan 1.025 jiwa yang mendadak jadi korban—meski untungnya, tak satu pun jadi korban jiwa.

Banjir ini bukan pertama kalinya, dan boleh jadi bukan yang terakhir. Tapi tetap saja, setiap kali datang, selalu ada yang tak siap. Tiga sekolah ikut terendam. Anak-anak yang seharusnya menghafal Pancasila malah belajar membedakan mana air hujan dan mana air sisa dapur. Sementara itu, pasar desa ikut lumpuh. Pedagang sayur memindahkan dagangan ke atas meja makan rumah masing-masing. “Semua lari-lari, Pak, padahal baru siap-siap buka lapak,” kata seorang warga di Moutong Barat.

Tim Reaksi Cepat BPBD Kabupaten Parigi Moutong langsung turun ke lokasi. Bukan dengan karpet merah, tentu saja. Tapi dengan assesment cepat dan tas logistik darurat. Koordinasi dengan aparat desa pun digelar. Di tengah guyuran hujan, mereka berjalan menyusuri desa, satu per satu, mengecek titik terparah. Beberapa warga sudah mengungsi ke rumah tetangga yang kebetulan rumah panggung. Yang tidak punya panggung, cukup naik kasur.

Sampai berita ini ditulis, air masih bertahan. Hujan juga belum berpikir untuk berhenti. Dan seperti biasa, warga menunggu: entah air yang turun, atau bantuan yang naik.

Baca Juga: Petaka 3 WNI Visa Non Haji Ditemukan Meninggal Ditengah Gurun Hindari Razia

Pemerintah menyediakan aplikasi bernama SIBIMO untuk pelaporan bencana. Tapi di tengah banjir dan sinyal yang suka galau, aplikasi mungkin lebih berguna kalau dilengkapi perahu karet.

Belajar dari banjir tampaknya selalu jadi PR panjang. Tapi selama kita masih hanya mendata jumlah korban tanpa mengubah pola, cerita seperti ini bisa jadi langganan tiap musim hujan. Seperti lagu lama yang terus diputar ulang, dengan lirik yang tak pernah benar-benar diubah.

Editor: Dwi Rahayu Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini