Sulawesitoday - Sebuah insiden tak terduga menyelimuti RSUP Wahidin Sudirohusodo, Makassar. Seorang pria berinsial MAR (23) tega membiling leher lalu membanting seorang perawat. Usih brutal tersebut disuga kuat bermotif amarah dan kekesalan karena sang ayah meninggal dunia di tengah perawatan. Lantas, bagaimana rupa tragedi yang membuat seorang tenaga medis menjadi sasaran emosi duka?
Peristiwa yang mengguncang lorong Lontara 4 Ruangan Urologi, Kamar 12, itu terjadi pada Sabtu, 24 Mei. Kala itu, sang perawat, yang menjadi korban, menerima laporan vital tentang kondisi ayah pelaku yang kian menurun. Sebuah panggilan darurat yang membawa langkahnya bergegas menuju kamar pasien.
"Korban segera menuju kamar untuk melihat kondisi pasien," tutur Kapolsek Tamalarea Kompol Muhammad Yusuf kepada awak media, Jumat, 11 Juli 2025, menguak tabir di balik kejadian ini.
Sesampainya di sana, pandangan perawat mendapati pasien dalam keadaan kesadaran yang menurung. Tanpa buang waktu, ia mengambil tindakan sigap, memasang alat bantu pernapasan (NRM) dan memantau kondisi melalui monitor.
Layar kecil itu menunjukkan napas pasien di angka 20-22 dan tensi 91/60, sebuah usaha keras untuk menarik pasien dari jurang. Ajaib, kondisi pasien sempat memperlihatkan secercah harapan; membaik setelah intervensi sang perawat. Memberi ruang napas bagi sang perawat untuk kembali ke pos jaganya.
Namun, hanya berselang 30 menit, badai kembali berhembus. Seorang pasien lain berlari tergopoh-gopoh ke ruang jaga, membawa kabar buruj tentang kondisi ayah pelaku yang kembali terjun bebas.
Perawat kembali ke kamar itu, dan menemukan kondisi ayah pelaku dalam napas terengah-engah. Tindakan resusitasi jantung paru (RJP) segera dilancarkan, sebuah perjuangan di ambang batas hidup dan mati. Namun, takdir berkata lain, pasien tak tertolong dan dinyatakan meninggal dunia.
Dalam suasana duka yang mencekam, saat perawat tengah mengurus jenazah, seolah petir menyambar, tiba-tiba MAR, sang anak pasien, membiling leher korban dan menjatuhkannya ke lantai. Sebuah pukulan tak terduga yang meninggalkan luka fisik dan batin bagi mereka yang berjuang di garis depan kesehatan.
Artikel Terkait
Muhammadiyah Terbitkan Bank Syariah Matahari, OJK Setujui Izin Operasional Resmi
Anggaran Lapindo Rp1,15 T Bikin Geger DPR: Pemborosan Tercium, Korban Terlupakan
Studi USC, Sulitnya Satu Pohon Tumbuh di Lahan Bekas Tambang - Kerusakan Permanen Menganga
Lebih dari Sekadar Pesta Seni, Parigi Fest Jadi Jantung Identitas Daerah Parigi Moutong - Dorong Ekonomi Lokal dan Talenta Muda
Beban Pemeliharaan IKN Rp300 Miliar per Tahun Jadi Sorotan Ekonom, Perencanaan Pemerintah Dipertanyakan