• Minggu, 19 Juli 2026

Ketua Utama Alkhairaat Contohkan Akhlak Guru Tua, Terima Maaf Fuad Pleret dengan Lapang Dada

.
Muhammad Aqil Azizi, Sulawesi Today
- Minggu, 20 Juli 2025 | 19:30 WIB
Gus Fuad Pleret minta maaf langsung ke Ketua Utama Alkhairaat. Habib Alwi tunjukkan keteladanan akhlak Guru Tua, terima maaf dengan lapang dada.
Gus Fuad Pleret minta maaf langsung ke Ketua Utama Alkhairaat. Habib Alwi tunjukkan keteladanan akhlak Guru Tua, terima maaf dengan lapang dada.

Sulawesitoday - Akankah keteladana akhlak Guru Tua menjadi penutup kisah pelik Gus Fuad Plered? Pertanyaan itu menggantung di udara, saat Habib Sayyid (HS) Alwi bin Saggaf Aljufri, Ketua Utama Alkhairaat, dengan tangan terbuka menerima permohonan maaf Muhammad Fuad Riyadi alias Gus Fuad Pleret, di kediamannya, Ahad (20/07).

Sebuah babak baru yang sarat makna, setelah Gus Fuad Pleret sempat tersandung kasus dugaan pencemaran nama baik dan penghinaan terhadap pendiri Alkhairaat, Habib Sayyid Idrus bin Salim Aljufri, atau yang lebih dikenal dengan Guru Tua.

Suasana pertemuan itu mencair, seiring Habib Alwi, dengan keanggunan seorang pemimpin, menyatakan menerima permintaan maaf itu.

"Hal-hal yang baik kita terima. Demikian juga ada hal-hal yang kurang dari saudara kita. Dengan menerima, artinya kita tidak perlu lagi menyebut-nyebut. Yang sudah berlalu, berlalulah," ucap Habib Alwi, dihadapan para pengurus PB Alkhairaat dan pihak terkait lainnya.

  • Memaafkan: Sunnah Nabi dan Ajaran Guru Tua yang Terukir

Bukan tanpa alasan Habib Alwi menunjukkankelapangan hati. Beliau mengurai, Guru Tua, dalam banyak bait syairnya, kerap berpesan agar mencontoh teladan Baginda Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam (SAW). Sebuah pesan yang mengalirkan kebijaksanaan, seperti yang tertuang dalam salah satu syair Guru Tua: "Dan kepada sunah Nabi aku mengajak untuk mempelajarinya, di dalamnya ada petunjuk, ada cahaya, ada ilmu, maka ketahuilah itu."

Maka, kata Habib, sudah sepatutnya "abnaul khairaat" atau putra-putri Alkhairaat, menjunjung tinggi ajaran Guru Tua. Termasuk, tentu saja, sifat pemaaf dan penebar kebaikan untuk umat. Apalagi, lanjutnya, jika sang saudara sudah datang dan mengakui kesalahan. "Apa yang terbaik bagi seseorang kalau dia sudah datang dengan mengakui kesalahan," imbuh Habib Alwi.

  • Sejarah Berulang: Kala Rasulullah Memaafkan Ka’ab Ibnu Zuhair

Habib Alwi bahkan menyeret ingatan kita ke abad ketujuh silam, ke sebuah kisah yang memiliki resonansi kuat dengan peristiwa ini. Dahulu, di masa Rasulullah, ada seorang bernama Ka’ab Ibnu Zuhair yang juga melontarkan kalimat memojokkan Nabi. Para sahabat, kala itu, ingin menyelesaikan persoalan dengan cara mereka.

Namun, ketika Ka’ab menyadari betapa sempitnya jalan baginya, ia mencari cara untuk bertemu Nabi. Akhirnya, pertemuan itu terjadi. "Waktu itu, Rasulullah tidak mengetahui bahwa yang datang adalah Ka’ab. Begitu dia ke depan Nabi, dia bertanya, 'Wahai Rasulullah, jikalau Ka’ab Ibnu Zuhair, aku bisa datangkan ke hadapanmu, apakah kau mau memaafkan?' Nabi bilang, 'Tentu.'

Maka Ka’ab pun mengatakan, 'Ya Rasulullah, aku Ka’ab Ibnu Zuhair. Aku mohon ampun'," tutur Habib. Saat itu pula, Rasulullah memaafkan, dan tak seorang sahabat pun berani menyentuh Ka’ab.

"Kejadian yang telah terjadi (kasus penghinaan terhadap Guru Tua) sebetulnya adalah pelajaran bagi semua, termasuk bagaimana pentingnya menjaga sikap, lisan, dan sebagainya," ujar Habib, menekankan hikmah di balik peristiwa.

Guru Tua, sambungnya, adalah simpul keumatan. Tidak saja bagi umat Islam, tetapi bagi umat-umat lain. Nama Alkhairaat yang disematkan Guru Tua sendiri bermakna "banyak kebaikan". Tentunya, Guru Tua mengharapkan semangat, jati diri, dan sikap para penerusnya senantiasa memberikan kebaikan. "Untuk itulah Guru Tua memilih jalan perjuangannya lewat pendidikan, memberikan kontribusi bagaimana kebaikan itu bisa tersebarkan untuk semua umat," jelas Habib.

  • Langkah Hukum Tetap Berjalan, Gus Fuad Plered Berjanji Mempelajari Guru Tua

Di sisi lain, Sekretaris Jenderal (Sekjen) PB Alkhairaat, Jamaluddin A Mariajang, menuturkan, sesuai arahan ketua utama dan kutipan syair Guru Tua, sudah menjadi kewajiban "abnaul" untuk mengikuti ajaran Nabi.

"Jadi beliau (Ketua Utama) sampaikan bahwa kita semua wajib menjalankan perilaku dan sunah Nabi, antara lain memaafkan orang. Itu isyarat. Dengan nasehat-nasehat itu kita sudah bisa menangkap," sebut Sekjen.

Meski demikian, Jamaluddin menyebut, dalam satu dua hari ke depan, pihaknya akan mengadakan pertemuan guna mempertimbangkan asas-asas hukum yang mungkin dilakukan oleh kepolisian. Mengingat, kasus Gus Fuad Pleret saat ini masih dalam proses hukum. "Kalau kita lihat sekarang ini, adik-adik kita yang tergabung dalam Presidium, mereka tergantung dengan ketua utama," katanya.

Halaman:

Editor: Muhammad Aqil Azizi

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini