Sulawesitoday - Tombi kini sepi. Desa di Kecamatan Ampibabo, Parigi Moutong ini kehilangan debu. Kehilangan deru mesin excavator. Kehilangan gemuruh truk-truk pengangkut.
Yunus sudah pergi.
"Yunus sudah tidak lagi beroperasi di area tambang ini," kata Aldi. Warga desa yang mengamati sejak awal.
Lima bulan lalu tepatnya. Yunus kembali ke Kendari. Kampung halamannya. Meninggalkan perbukitan Tombi yang pernah ia gali.
Alat-alat berat masih terparkir. Diam membisu. Ternyata bukan miliknya. Sewaan semua.
Tombi dulu riuh.
Setiap pagi, alat berat sudah bergerak. Membelah tanah. Mengejar emas di perut bumi. Warga terbiasa dengan suara bising itu. Bahkan menggantungkan harapan padanya.
Kini? Hening.
Hamparan tanah bekas galian terbentang luas. Seperti luka yang belum tertutup. Menunggu siapa yang akan menyembuhkannya.
"Sudah lama dia tidak beraktivitas lagi di Tombi," Aldi menambahkan. Matanya menatap ke arah bukit yang dulu sibuk itu.
Nama Yunus menjadi legenda tersendiri di Tombi.
Bukan karena ia penambang terbesar. Tapi karena ia yang paling gigih. Paling konsisten. Paling lama bertahan.
Warga tahu persis jadwalnya. Kapan excavator mulai menggali. Kapan truk datang mengangkut. Kapan shift berganti.
Sekarang semua itu tinggal kenangan.
Artikel Terkait
Prank 80 Miliar Dolar Zuckerberg
Chip: Raja Kecil yang Menekuk Lutut Dunia
Mahasiswa 19 Tahun Ditemukan Tak Bernyawa Usai Bertengkar dengan Kekasih di Kos Palu
Air Mata Guru Honorer, Ketika Gaji Rp400 Ribu Kalah dari Sopir Program MBG
Tak Perlu Reset Ulang, Ini Cara Cepat Melihat Sandi Akun Google yang Terlupa