Yang tertinggal? Spekulasi. Bisik-bisik warga di warung kopi. Pertanyaan-pertanyaan tanpa jawaban pasti.
Kenapa berhenti? Apakah izin bermasalah? Ataukah memang kandungan mineral sudah menipis?
Tidak ada yang tahu persis.
Bagi Tombi, ini bukan sekadar hilangnya satu penambang.
Ini tentang ekonomi desa. Tentang warung-warung yang kehilangan pembeli. Tentang tukang ojek yang kehilangan penumpang. Tentang ibu-ibu yang kehilangan tambahan penghasilan.
Ekosistem ekonomi mikro yang terbangun bertahun-tahun, runtuh dalam hitungan bulan.
Tapi ada juga yang bersyukur.
"Mungkin ini saatnya tanah kami pulih," kata seorang warga lain. Yang rumahnya dekat dengan area tambang.
Ia rindu udara yang lebih bersih. Air sungai yang lebih jernih. Burung-burung yang berani kembali berkicau.
Keheningan Tombi kini menyimpan harapan ganda.
Harapan akan pemulihan lingkungan. Dan harapan akan kejelasan masa depan.
Pertanyaan-pertanyaan itu menggantung di udara Tombi.
Seperti debu yang perlahan mengendap. Setelah alat berat berhenti beroperasi.
Tombi kini sunyi. Menunggu babak berikutnya dalam ceritanya.
Baca Juga: Tak Perlu Reset Ulang, Ini Cara Cepat Melihat Sandi Akun Google yang Terlupa
Artikel Terkait
Prank 80 Miliar Dolar Zuckerberg
Chip: Raja Kecil yang Menekuk Lutut Dunia
Mahasiswa 19 Tahun Ditemukan Tak Bernyawa Usai Bertengkar dengan Kekasih di Kos Palu
Air Mata Guru Honorer, Ketika Gaji Rp400 Ribu Kalah dari Sopir Program MBG
Tak Perlu Reset Ulang, Ini Cara Cepat Melihat Sandi Akun Google yang Terlupa